Jendela Keluarga: Ujian dan Cobaan sepertinya tidak bisa lepas dari fitrah manusia, karena dengan ujian itulah hidup kita selaku hambaNYA akan semakin berkualitas dan juga akan bertambah baik. Dan sebaliknya, jika hidup ini selalu dalam keadaan baik terus, tanpa ada satu halangan dan rintangan, tentu manusia tidak mengetahui tingkat kebaikan atau kualitas yang ada pada dirinya.
Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami
Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.
Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah
Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.
Cinta Tanpa Syarat
Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.
Cinta Tidak Harus Dengan Kata
Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.
Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta
Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.
Wednesday, December 25, 2013
Sudah terujikah Iman Kita
Jendela Keluarga: Ujian dan Cobaan sepertinya tidak bisa lepas dari fitrah manusia, karena dengan ujian itulah hidup kita selaku hambaNYA akan semakin berkualitas dan juga akan bertambah baik. Dan sebaliknya, jika hidup ini selalu dalam keadaan baik terus, tanpa ada satu halangan dan rintangan, tentu manusia tidak mengetahui tingkat kebaikan atau kualitas yang ada pada dirinya.
Tuesday, December 24, 2013
Gerakan One Day One Juz (ODOJ)
Mekanismenya adalah membangun grup ODOJ di Whatsapp dimana 1 grup beranggotakan 30 orang, kemudian dibuat sistem pelaporan dan lelangan juz maka targetan yang ingin dicapai adalah 30 JUZ Al-QUR’AN dapat diselesaikan oleh satu grup setiap harinya dan KHATAM PRIBADI setiap bulannya dengan asumsi 1 anggota tidak absen tilawah juz Al-Qur’an secara berurutan selama sebulan. Kemudian juga ada PJ Harian dari anggota yang bergantian bertugas mengupdate laporan juz, memonitoring, dan mengatur lelangan untuk mencapai targetan tadi.
Insha Allah..TILAWAH JADI LEBIH FUN DAN SEHARI SEJUZ JADI LEBIH RINGAN…^_^
Bagi anda yang tertarik dengan program ini, silahkan daftar ke CP berikut inionedayonejuz.org
Silahkan hubungi SALAH SATU kontak kami di bawah ini untuk ketertarikan anda.
Diprioritaskan pengguna whatsapp dengan format DaftarODOJ_NAMA_DOMISILI_NO WA
NB:
- Harap bagi pengguna Whatsapp untuk mendaftar via whatsapp (tidak melalui sms).
- Mohon maaf kalau agak menunggu karena antrian pendaftar ratusan.
- Mohon untuk tidak mendaftar ke lebih dari 1 (satu) cp pendaftaran untuk menghindari double data.
ODOJ Pria/Ikhwan
|
||
|
No
|
Nama
|
Kontak
|
| 1 | Aminullah | 081227083630 |
| 2 | Andhira | 08561453464 |
| 3 | Bot Pranadi | 085815004984 |
| 4 | Dedi | 085925159202 |
| 5 | Hakim | 08981714110 |
| 6 | Hendra | 081225911466 |
| 7 | Zet Arrahman | 082283403193 |
|
ODOJ Perempuan/Akhwat
|
||
|
No
|
Nama
|
Kontak
|
| 1 | Dian | 085210836063 |
| 2 | Aisi | 081928831066 |
| 3 | Fatmawati | 08881635703 |
| 4 | Isna | 085693534392 |
| 5 | Mala | 085380290089 |
| 6 | Ambar | 085216731160 |
| 7 | Maryana | 085769240803 |
| 8 | Eka | 085642570693 |
| 9 | Monalisa | 08119993387 |
Monday, December 23, 2013
Lima Hal Perlu Diwaspadai Para Istri “Pejuang”
Sunday, December 22, 2013
Jika Istrimu Seorang Engineer
Jendela Keluarga: Kalian tahu, para lelaki, tidak mudah bagi seorang wanita untuk memutuskan jadi engineer. Mereka harus bergumbul di dunia yang seharusnya tempat laki-laki berada bukannya wanita. Mereka harus bersaing diantara para lelaki cerdas dan berlogika kuat, tapi tak apalah toh ini salah satu cita-citanya. Toh sekarang adalah jamannya emansipasi wanita “katanya”.
Jika istrimu adalah seorang engineer, yang mungkin di mata orang umum hanya bisa mengutak-atik program di komputer. Menghitung segala rumus-rumus rumit, membuat analisa untuk proyek-proyek besarnya, tapi ingatlah mereka masih tetaplah seorang wanita. Seorang wanita yang tetap menjadi ibu yang lembut bagi anak-anak kalian kelak. Ibu yang akan menggendong anak-anak kalian ketika mulai rewel. Ibu yang membuatkan susu untuk mereka ketika mulai menangis. Ibu yang mengganti popok mereka, memandikan mereka dan masih banyak hal yang dia lakukan.
Mungkin di mata kalian, seorang engineer hanya menghabiskan waktunya berlama-lama didepan komputer, rapat bersama client penting, survey di site project mereka. Namun ingatlah, kalian suami dan anak-anak tetap berada di hatinya sepanjang waktu, kemanapun dia pergi. Dia adalah orang yang tak akan lupa menyebut kalian dalam doa disetiap sujudnya dan disetiap langkahnya.
Dialah yang selalu melakukan semua tugas rumah tangga yang sudah menjadi kewajibannya. Dialah yang nantinya akan bangun paling pagi sebelum kalian bangun, tetapi dia jugalah yang akan tidur paling akhir. Dia akan selalu memastikan anak-anaknya bisa tidur dengan lelap, bahkan dia akan memastikan tidak ada seekor nyamuk pun yang akan menggangu tidur anak-anaknya nanti. Dia juga yang akan mencium keningmu saat kamu tidur, bahkan memijat-mijat badan kalian ketika kalian mulai mengeluh capek.
Jika istrimu adalah seorang engineer, yang mungkin dimata orang umum kurang pandai berdandan seperti wanita modis yang lain, tapi dia akan berusaha cantik di matamu. Dia akan berusaha membuat dirinya terlihat menarik dan tetap pintar tentunya di matamu.
Jika istrimu adalah seorang engineer, yang mungkin di mata orang umum adalah sesosok wanita yang cuek dan tomboy. Ingatlah dia tidak bisa secuek itu, dia tetaplah seorang manusia biasa yang akan stress dan tertekan ketika banyak deadline yang harus diselesaikannya. Dia tetaplah seorang manusia yang akan merasa terpuruk ketika atasannya memarahinya. Dia juga tetap akan menitikkan air mata saat dia sudah merasa terlalu capek menahan semua beban yang ada di pundaknya.
Dia tetap butuh pelukan hangat darimu yang bisa menentramkan, dia tetap butuh senyuman tulus darimu. Tetaplah genggam tangannya ketika dia mulai jatuh. Tetaplah berada di depannya ketika dia butuh perlindungan. Dan tetaplah berada di sisinya karena meskipun tampak kuat dia hanyalah seorang wanita yang butuh didampingi disetiap langkahnya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Submitted :
Ayu Haristyana
Seorang Engineer dan Seorang Istri
Teknik Kelautan - ITS
Sudahkah Kita Memuliakan Ibu..
Firman-Nya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (QS al-Ahqâf/46: 15).
“Ya Rasulullah,
siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu” (HR Bukhârî).
Berbuat baik pada ibu meliputi antara lain memperlakukannya dengan baik, menghormati, merendahkan diri, menaati selain dalam maksiat, dan meminta ridhanya dalam segala urusan. Bahkan dalam berjihad, jika jihadnya fardu kifayah, haruslah atas seizin ibu. Berbakti pada ibu juga merupakan jihad.
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata:
“Ya Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk meminta nasihatmu.” Beliau bertanya: “Kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di kedua kakinya” (HR al-Nasâ`î).
Beberapa ajaran pra-Islam mengabaikan posisi dan kemuliaan ibu. Lalu Islam datang dengan seperangkat ajaran yang memuliakan serta menjunjung tinggi martabat dan kedudukan ibu. Bukan hanya ibu; bibi—baik bibi dari pihak ayah maupun dari pihak ibu—pun dimuliakan Islam begitu rupa. Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw. dan berkata:
“Aku telah melakukan dosa besar. Adakah kesempatan bagiku bertobat?” Nabi Saw. bersabda: “Apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah kamu masih punya khâlah (bibi dari pihak ibu)?” Ia menjawab: “Ya.” Nabi bersabda: “Maka berbuat baiklah kepadanya” (HR. Tirmidzî).
Dalam hal ini, di antara ajaran Islam paling mengagumkan adalah bahwa Islam tetap menyuruh berbuat baik kepada ibu walaupun ia seorang musyrik. Asmâ` bint Abi Bakr bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana ia berhubungan dengan ibunya yang musyrik. Nabi Saw. berkata padanya:
“Ya, tetaplah berhubungan dengan ibumu” (HR Muslim).
Di antara perhatian serta penghargaan Islam terhadap ibu dan hak-haknya adalah bahwa ia menjadikan ibu lebih berhak atas pengasuhan anak-anaknya daripada ayah. Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw.:
“Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu di perutku ia hidup, dari payudaraku ia menetek, dan di punggungku ia kugendong. Kemudian bapaknya menceraikanku dan bermaksud merebutnya dariku.” Nabi Saw. berkata padanya: “Kamu lebih berhak atas anakmu itu selama kamu belum menikah”
(HR Abû Dâwud).
‘Umar dan istri yang diceraikannya mengadu kepada Abû Bakar tentang anak mereka, ‘Âshim. Abû Bakar pun memutuskan bahwa ‘Âshim jatuh ke tangan ibunya. Kepada ‘Umar, Abû Bakar berkata: “Aroma mantan isterimu, penciumannya, dan kata-katanya lebih baik untuk anakmu daripada kamu.” Kekerabatan ibu lebih dekat dan lebih utama dari bapak dalam hal kepengasuhan anak.
Al-Qur`an mengabadikan beberapa nama ibu salehah sebagai pelajaran dan arahan bagi kaum Mukmin. Bagi pembinaan iman, kisah mereka memiliki pengaruh yang cukup signifikan.
Ada ibunda Nabi Mûsâ yang memenuhi petunjuk Allah lewat ilham untuk menghanyutkan anaknya, belahan jiwanya, ke sungai Nil. Ia yakin seutuhnya akan janji Tuhan yang akan mengembalikan anaknya.
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul” (QS al-Qashash/28: 7).
Ada ibunda Siti Maryam yang menazarkan janin di rahimnya untuk Allah. Dia berdoa setulus hati kepada Allah supaya Dia menerima nazanya:
“Terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Âli ‘Imrân/3: 35).
Ketika bayi yang lahir ternyata perempuan—tidak seperti yang dia angankan—ibunda Maryam tetap menunaikan nazarnya seraya memohon kepada Allah untuk menjaga anaknya (Maryam) dari segala keburukan:
“Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk” (QS Âli ‘Imrân/3: 36).
Kemudian Maryam puteri ‘Imrân, ibunda ‘ÃŽsâ al-Masî h. Al-Qur`an menjadikannya ikon kesucian, pengabdian kepada Allah dan keyakinan akan ayat-ayat-Nya:
Dan Maryam puteri ‘Imrân yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat (QS al-Tahrîm/66: 12).
Islam tidak mengkhususkan tanggal tertentu untuk merayakan hari ibu, sebab Islam memuliakan ibu sepanjang hayatnya, bahkan setelah kematiannya. Adalah kewajiban para anak untuk memuliakan, berbuat baik, dan menjaga ibu mereka setiap saat, setiap waktu. Ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik, berjuang, berkorban, dan menanggung banyak beban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu selalu menjaga nikmat yang dianugerahkan Allah, yakni nikmat umûmah (keibuan), membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran. Seorang ibu begitu berharga dan mulia, selamanya. Tidak ada pilihan selain memuliakan dan berbuat baik kepadanya, setiap saat—baik selagi ia masih hidup maupun setelah meninggal.
Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:
Ibu: Perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.
Ibu: Padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.
Ibu: Kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.
Ibu: Makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.
Ibu: Teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.
Ibu: Sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.
Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup.
“Ketulusan dan pengorbanan dalam keseluruhan bentuk dan maknanya.” Al-Qur`an memberikan perhatian khusus terhadap ibu dan menyuruh manusia untuk memerhatikannya. Perhatian khusus itu diberikan terutama karena ibu telah menanggung banyak beban demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup anak-anaknya. Allah telah memerintahkan berbakti kepada ibu, melarang mendurhakainya, dan mengaitkan ridha-Nya dengan ridha ibu. Nabi Saw. pun mewanti-wantikan tentang hak ibu. Dibanding ayah, ibu lebih berhak untuk mendapatkan budi baik dari anak-anaknya. Dalam hal ini, keutamaan ibu atas ayah dikarenakan dua hal:
Pertama , ibu menanggung beban mengandung anak, melahirkan, menyusui, mengurus, mengasuh, dan mendidiknya. QS Luqmân/31: 14 menegaskan hal ini.
Kedua , fithrah kasih sayang, kelembutan, cinta, dan perhatian ibu lebih besar dari ayah.
Di antara bukti betapa besarnya kasih sayang ibu adalah bahwa betapa pun durhakanya seorang anak kepada ibunya, ibu akan melupakan kedurhakaan anaknya itu ketika sang anak tertimpa musibah atau mendapat kesulitan hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu menghitung atau menakar hak orang tua atas anak-anaknya. Di antara dua orang tua, ibulah yang lebih berhak atas segala pengabdian, budi baik, pemuliaan dan penghormatan anak.
Islam sangat menjunjung tinggi dan mensucikan hubungan atau ikatan dengan ibu. Untuk menjaga kesucian ini, Islam mengharamkan menikah dengan ibu:
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu (QS al-Nisâ`/4: 23).
Dengan tegas Islam menyatakan bahwa ikatan suami-istri tidak akan pernah berubah menjadi ikatan anak-ibu. Sangat jauh perbedaan antara keduanya:
Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (QS al-Ahzâb/33: 4).
Ada baiknya di sini ditampilkan kata-kata para tokoh & sebagai seorang anak tentang sosok ibu :
“Keibuan adalah anugerah terbesar yang Tuhan peruntukkan bagi kaum perempuan” (Marry Hopkins).
“Tidak ada di dunia ini bantal yang lebih lembut dari pangkuan ibu” (Shakespear).
“Aku tidak akan menamaimu wanita. Aku akan menamaimu segalanya” (Ma hmûd Darwîsy).
“Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Dia adalah pelipur lara dalam kesedihan, pembawa harapan dalam keputusasaan, dan kekuatan dalam kelemahan” (Kahlil Gibran).
“Tanpa ibu, umat tidak akan ada. Karena ibulah umat ada” (Khalil Mathran).
“Jika dunia ada di tangan yang satu dan ibu di tangan satunya lagi, pastilah aku pilih tangan di mana ibu berada” (Jean Jaques Rouseou).
“Ibulah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengoyang (mengguncang) dunia dengan tangan kirinya” (Napoleon Bonaparte).
“Di dunia, hanya satu yang lebih baik dari istri; ibu” (Syafir).
“Tidak ada dalam hidup ini seorang perempuan yang menghibahkan seluruh hidup, kasih sayang dan cintanya tanpa meminta imbalan, selain ibu. Maka berilah ia, ya Tuhan, umur yang lebih panjang dari umur manusia” (Schuber).
“Satu-satunya tempat di mana aku dapat menyandarkan kepala padanya dan tidur di dalamnya dengan tenang dan nyaman, adalah pangkuan ibu” (Voltaire).
“Ketika aku menunduk mencium tanganmu, mencucurkan airmata di dadamu, dan menangkap tanda rela dari sorot matamu; hanya ketika itu aku merasakan kesempurnaan diri sebagai seorang laki-laki” (Islam Syamsuddîn).
“Tak ada sesuatu pun di dunia yang lebih manis dari hati ibu” (Martin Luther).
“Anda boleh melupakan segala hal tentangku, kecuali apa yang telah diajarkan ibu kepadaku” (Nixon).
“Ibu selalu mencintai dan hanya mengetahui cinta” (Cyrus).
“Seandainya seluruh semesta menjadi kecil, maka ibu akan tetap besar” (Victor Hugo).
“Segala yang dikerahkan oleh para bapak tidak akan sebanding dengan satu kasih sayang saja dari kasih sayang ibu yang tanpa batas” (Voltaire).
“Lantunan terlembut dan senandung terindah hanya dapat diberikan oleh hati ibu” (Bethoven).
“Saat paling bahagia bagi seorang wanita; saat dimana ia merasakan kesejatian dan keabadian dirinya sebagai wanita serta sebagai ibu, adalah saat ia melahirkan” (‘Abbâs Ma hmûd al-‘Aqqâd).
Delapan Karakter Suami Ideal
1. Suami yang sejak awal telah menunjukkan kejujuran dan sikap terus terang. Kelemahan dan kekurangan yang dimiliki tidak disembunyikan sejak melamar.
2. Suami yang menggauli istrinya dengan baik; lembut; memuliakan dan menerima kelebihan serta kekurangan keluarga istrinya.
3. Suami yang mampu menghibur istri dan bersikap lembut terhadap istri. Ia berbicara dengan bahasa yang menarik, mau mengerti dan mendengar perkataan istrinya jika memang pendapatnya itu logis dan tak melanggar agama.
4. Suami yang tidak terlalu pencemburu, tidak mengumbar prasangka, tidak suka memata-matai dan tidak berlebihan.
5. Suami yang memberikan belanja yang cukup kepada istri, tidak boros dan juga tidak bakhil.
6. Suami yang selalu tampil di muka istrinya dengan rapi dan meyakinkan. Ia selalu menjaga penampilan dan kebersihannya, sehingga yang tercium darinya hanyalah bau harum semerbak.
7. Suami yang senantiasa menjaga rahasia rumah tangga. Hal ini mencegah orang-orang sekitarnya menggunjing keluarga mereka.
8. Suami yang senantiasa menjaga kejantanannya, baik secara fisik maupun psikis, sehingga memancarkan kewibawaan.
sumber: bersamadakwah.com













