Selamat Datang di Web Jendela Keluarga Aris Nurkholis - Ratih Kusuma Wardani

Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami

Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.

Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Cinta Tanpa Syarat

Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Cinta Tidak Harus Dengan Kata

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.

Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta

Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.

Sunday, January 19, 2014

Cinta Tidak Harus dengan Kata


Jendela Keluarga: Tentu kita semua sudah sering mendengar, membaca dan menikmatu puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Mungkin karena Sapardi Djoko Damono laki-laki, maka lahirlah puisi cinta yang indah ini. Isinya, sangat laki-laki. Jika seorang perempuan membuat puisi cinta, tidak akan seperti ini isinya. Saya menghafal puisi ini dengan baik.

Mari kita cermati dengan seksama, karya sang pujangga ini.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang membuatanya terbakar
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang membuatnya tiada

Indah sekali kalimat puisinya, dan saya tidak pernah bosan membaca dan mengucapkannya.

Puisi Cinta Suami

Puisi ini sangat laki-laki. Secara umum, laki-laki kurang bisa mengekspresikan bunga-bunga cinta di hatinya. Ia tak pandai mengungkapkan dengan mesra kepada istrinya. Bahkan banyak lelaki yang tidak mampu mengungkapkan kata “rindu, kangen, sayang, cinta”, dan lain sebagainya kepada istri yang sangat dicinta. Ada beban yang sangat berat untuk mengekspresikan cinta dengan kata-kata.

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”. Laki-laki itu sering merasa “tidak sempat”. Padahal perempuan sangat menunggu kata dan isyarat tadi. Sayang, lelaki “tak sempat”, maka tak ada kata dan isyarat. Ia hanya punya cinta sederhana.

Walau sederhana, namun ia adalah cinta. Semestinyalah istri menerima dengan bahagia, bahkan merayakan bersama dengan penuh kesyukuran jiwa.

Di sisi lain, secara umum perempuan sangat ingin mendapatkan kata-kata mesra dari suaminya. Ia tahu suami mencintainya, namun ia ingin kepastian dari mulut suami sendiri. Bukan hanya membaca isyarat, apalagi jika isyarat itu tidak sempat disampaikan. Ia sangat senang mendapat rayuan, pujian dan kata-kata mesra dari suami. Sayang, suami “tidak sempat” melakukannya. Padahal istri sangat mengharapkannya.

Puisi Rahmah, Bukan Mawaddah

Sering kita mendengar istilah sakinah, mawaddah dan rahmah. Kata sakinah merujuk kepada kondisi keluarga yang tenang, tenteram, nyaman, dan damai. Di atas kondisi sakinah itu, muncullah dua perasaan lainnya, yaitu mawaddah dan rahmah. Kata mawaddah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang menggelora, menggebu-gebu, dan bercorak sangat fisik. Biasanya terjadi pada anak muda atau pengantin baru.

Sedangkan kata rahmah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang “sederhana”, tidak menggebu-gebu dan tidak lagi bercorak fisik. Biasanya terjadi pada pasangan yang sudah dewasa atau bahkan tua. Jika pasangan sudah melewati duapuluh tahun usia pernikahan, maka akan dominan corak rahmah daripada mawaddah. Cinta yang sudah tidak berada dalam batas-batas sebab yang bercorak fisik.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, jelas menunjukkan suasana rahmah tersebut. Tidak bercorak fisik dan menggebu, namun sudah menunjukkan kedewasaan cinta dan hubungan. Untuk perbandingan, cinta mawaddah yang bercorak sangat fisik dan menggebu itu seperti ungkapan berikut:

Aku ingin menggenggam erat tanganmu.
Aku ingin memeluk erat tubuhmu.
Aku ingin mencumbumu.
Aku ingin mencium bibirmu.
Aku ingin melumat, mengkulum, meremas….

Kalimat di atas menunjukkan adanya suasana cinta yang menggelora. Biasa terjadi pada anak muda, atau pada pasangan pengantin baru.

Jaman dulu (jadul) ada lagu sangat kondang dari Vina Panduwinata, judulnya saja “Cium Pipiku”. Melihat judul dan isi syairnya, memang ini anak muda pacaran. Orang sedang pacaran, suasananya sama dengan pengantin baru. Bercorak sangat fisik. Berikut cuplikannya :

“Pegang tanganku, pegang pegang tanganku / Rayulah daku, rayu rayulah daku / Bila kau sayang padaku / Katakan sayang…

Peluk diriku, peluk peluk diriku / Cium pipiku, cium cium pipiku / Bila kau cinta padaku / Katakan cinta….”

Saya cuplikkan lagu jadul ini, karena saya tidak ngerti lagu-lagu yang sekarang…:) Mencuplik lagu, tentu sesuai zamannya. Lagu Vina tersebut menggambarkan sebuah asmara yang menggelora dari sepasang kekasih, sebagaimana pada pengantin baru pada umumnya.

Nah, semakin lama usia pernikahan, akan mereda dengan sendirinya corak fisik tersebut. Hubungan semakin dewasa, usia semakin menua, maka corak rahmah menjadi ciri dari kehidupan keluarga yang sudah tidak lagi bisa dikatakan muda. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, adalah keinginan yang sederhana. Lahir dari hubungan yang sudah dewasa.

Menikmati puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono di atas, mengingatkan suami dan istri bahwa ungkapan cinta tidak selalu harus menggebu-gebu. Ungkapan cinta bahkan tidak harus dengan kata-kata, bahkan isyarat. Cinta bisa dirasakan, walau “tidak sempat” mengucapkan kata-kata dan menyampaikan isyarat.

Selamat menikmati cinta.

Sumber: Kompasiana.com/PakCah

Saturday, January 18, 2014

Cinta Tanpa Syarat



Jendela Keluarga: John dan Ann Betar layak berbahagia. Mereka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 81. Pasangan asal Connecticut, Amerika Serikat  itu termasuk “makhluk langka” di sebuah negara adidaya seperti Amerika, dimana pernikahan dan keluarga bukan menjadi tema sentral pada umumnya kehidupan masyarakat mereka.

Ann saat ini berusia 98 tahun dan John berusia 102 tahun, mencoba mengingat kembali sumber utama perselisihan mereka. “Ini hanya tentang memasak. Itulah satu-satunya konflik yang pernah kami alami,” kata Ann. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 5 anak, 14 cucu dan 16 cicit. “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami,” ujar Ann.

Cinta Tanpa Syarat


Ungkapan Ann Betar tersebut sangat menarik, “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami.” Sering kita jumpai dalam kehidupan keluarga, suami dan isteri yang sering terlibat konflik berkepanjangan karena tidak mampu memahami pasangan. Bahwa dalam keluarga selalu ada perbedaan dan pertengkaran, itu wajar saja. Namun ketika suami dan isteri sudah menetapka “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

 









Keluarga John dan Ann sudah pasti tidak terlepas dan problematika. Namun mereka sudah memiliki rumus dan cara untuk menghadapinya. “Pernikahan bukan sesuatu yang mesra. Selama 80 tahun, Anda belajar menerima cara hidup pasangan, kesepahaman, ketidaksepahaman, perselisihan tentang anak-anak kami, dan persiapan membesarkan anak-anak. Kepentingan utama adalah anak-anak,” ujar and Ann Betar.

Dalam wawancara dengan ABC, Ann dan John berbagi resep langgeng pernikahan mereka. “Akur, berkompromi, jalani hidup dengan penuh arti dan berguna,” ujar John. “Dan biarkan istrimu yang menjadi bos,” tambahnya. Sementara itu menurut Ann, untuk membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan diperlukan suatu komitmen besar. “Kamu sudah tahu apa komitmenmu dan cobalah hidup dengan menjalani itu, memahami satu sama lain,” tuturnya.

Selama menjalani pernikahan hal tersulit yang pernah dialami adalah ketika mereka kehilangan dua anak. Keduanya sangat sedih, namun berhasil melalui cobaan tersebut dan kembali menjalani hidup hingga usia pernikahan mereka terus bertambah. Mereka berdua tidak larut dalam kesedihan, namun memilih fokus untuk hidup bahagia di sisa usai mereka bersama tiga anak yang masih ada dengan 14 cucu serta 16 cicit.

Mensepakati Rumus Kebahagiaan

Suami isteri harus memiliki rumus kebahagaiaan yang disepakati bersama. Bagaimana cara yang harus mereka tempuh untuk menjaga dan menguatkan kebahagiaan dalam keluarga, harus menjadi rumus yang disepakati bersama. Semakin lama usia pernikahan, semakin tua usia masing-masing pihak, harus semakin bijak dalam mensiasati kebahagiaan dalam kehidupan keluarga.

Banyak kegagalan dalam hidup berumah tangga, disebabkan karena ketiadaan rumus kebahagiaan antara suami dan isteri. Mereka belum menemukan rumus yang disepakati sebagai jalan menempuh kehidupan yang langgeng dan bahagia. Keduanya masih berjibaku mempertahankan dan memenangkan ego masing-masing. Tidak saling mengalah, tidak saling mendekat, tidak saling memahami, tidak saling mengerti. Akhirnya mereka tidak menemukan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga.

Rumus kebahagiaan John dan Ann sederhana saja. “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami”.
Cobalah untuk mendapatkannya bersama pasangan anda.

Sumber: kompasiana.com/PakCah


Friday, January 17, 2014

Nasehat Ustd Farid Nu'man Untuk Para ODOJers ……….

Ustd. Farid Nu'man

Alangkah indahnya nasihat Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah:

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Ucapan ini tersebar dalam banyak kitab, seperti Minhajul Qashidin-nya Imam Ibnu Qudamah, Tazkiyatun Nufuus-nya Imam Ibnu Rajab, dll).







Janganlah kalian batalkan amal shalih itu karena komentar miring manusia, dan jangan pula kalian lakukan karena mengharapkan ridha manusia, tetaplah beramal, dan jangan pernah pikirkan semua komentar yang membuat hati kalian guncang. Urusan kalian adalah kepada Allah Ta’ala bukan dengan mereka. Sibukkanlah hati kalian denganNya, biarlah mereka sibuk menyelediki hati kalian, sehingga mereka lupa dengan hatinya sendiri. Sebab di akhirat nanti kullu nafsimbima kasabat rahiinah (setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing). Memintalah kepada Allah Ta’ala agar tetap dijaga dan selamatkan dari riya dan kesyirikan dalam beramal.


Ustd. Farid Nu'man

Thursday, January 16, 2014

Komunikasi Efektif Suami Istri


Jendela Keluarga: Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dijumpai pasangan suami istri yang terjebak dalam konflik berkepanjangan, hanya karena sebab yang sepele dan remeh. Mereka tidak mampu mengungkapkan keinginan dan perasaan secara lancar kepada pasangannya, yang berdampak muncul salah paham dan memicu emosi serta kemarahan pasangan. Ini menunjukkan adanya komunikasi yang tidak lancar, sehingga berpotensi merusak suasana hubungan antara suami dengan istri.


 Ternyata, komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan rumah tangga. Gagal berkomunikasi bisa mengancam keutuhan sebuah keluarga, bahkan sampai ke tingkat perceraian. Sebenarnya apakah maksud komunikasi, dan bagaimana agar bisa berkomunikasi secara efektif kepada pasangan?

Makna Komunikasi

Komunikasi adalah aktivitas menyampaikan apa yang ada dalam pikiran, konsep yang kita miliki dan keinginan atau perasaan yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Komunikasi juga bermakna sebagai seni mempengaruhi orang lain untuk memperoleh apa yang kita inginkan. (B S Wibowo, 2002).

Yang dimaksud dengan komunikasi efektif adalah sebuah bentuk komunikasi dimana pesan yang disampaikan berhasil mencapai sasaran dengan feedback (respon) yang sesuai dengan tujuan. Jika suami menghendaki “Aku ingin dibuatkan teh panas manis”, maka istri mengerti persis setingkat apa panasnya dan seperti apa tingkat kemanisannya. Jika istri membuatkan kopi pahit, maka jelas ini bentuk komunikasi yang terdistorsi secara berlebihan.

Jika istri menghendaki, “Aku ingin engkau perhatikan”, maka suami mengerti persis bentuk perhatian seperti apa yang diinginkan istri dan menyenangkan hati istri. Jika suami justru pergi meninggalkan rumah dengan marah, ini menandakan proses komunikasi yang terlalu jauh menyimpang.

Pondasi Utama

Jauh sebelum berpikir tentang upaya membangun komunikasi efektif, hal yang pertama kali harus dimiliki adalah menciptakan visi keluarga yang jelas. Suami dan istri harus memiliki cita-cita besar (vision) yang terang benderang, dan menjadi sebuah ikatan moral yang kokoh untuk diwujudkan dalam kehidupan. Visi inilah yang akan menuntun arah perjalanan kehidupan keluarga agar tidak menyimpang dan tidak berbalik arah.

Visi keluarga adalah surga. Ingin mendapatkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Mendapatkan surga dunia dalam rumah tangga, dan mendapatkan surga akhirat di taman keabadian yang dijanjikan-Nya. Inilah visi yang sangat kokoh, yang mengikat kehidupan keluarga menuju kepada muara yang sangat jelas dan indah.

Dengan visi ini, suami dan istri akan selalu berusaha membahagiakan pasangannya. Selalu berusaha untuk menciptakan keluarga yang bahagia, dan bersama masuk surga.

10 Prinsip Komunikasi Efektif

Ada banyak orang berkomunikasi, namun tidak mendapatkan tanggapan seperti yang diharapkan. Ternyata pesan tidak sampai kepada pasangan, atau pesan sampai kepada pasangan tetapi dengan terdistorsi. Dampaknya komunikasi tidak pernah nyambung dan masing-masing merasa tidak nyaman dalam berkomunikasi. Hal ini akan mengakibatkan kemalasan dalam komunikasi dan memilih pasif.

Agar komunikasi antara suami dan istri bisa efektif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak:
  1. Mengetahui ragam komunikasi, dari berbicara, menulis, hingga menyampaikan pesan lewat berbagai media
  2. Bersikap empati. Memposisikan diri Anda pada situasi perasaan dan pikiran yang sedang dialami pasangan.
  3. Fleksibel, komunikasi kadang memerlukan suasana dan gaya serius, namun ada kalanya lebih efektif menggunakan suasana dan gaya yang santai
  4. Memahami bahasa nonverbal. Kadang ekspresi wajah dan bahasa tubuh pasangan Anda sudah mengisyaratkan sesuatu pesan
  5. Jadilah pendengar yang baik. Jangan menguasai komunikasi dengan terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengar
  6. Egaliter, hilangkan sekat pembatas antara Anda dengan pasangan yang menghalangi  kehangatan komunikasi
  7. Hindarkan kalimat dan gaya yang menyakiti hati pasangan, atau menyinggung perasaannya
  8. Sampaikan pesan dengan lembut dan bijak. Jangan berlaku kasar dalam komunikasi
  9. Gunakan bahasa dan media yang tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi saat melakukan komunikasi
  10. Pilih waktu, suasana dan tempat yang tepat untuk mendukung kelancaran berkomunikasi.
Demikianlah sepuluh prinsip komunikasi efektif antara suami dan istri. Semoga kita semua mampu menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Aamiin.

Oleh: Ustd. Cahyadi Takariawan

Wednesday, January 15, 2014

Komunikasi Dan Interaksi Penuh Cinta




Jendela Keluarga:  Di antara hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat antara seluruh anggotanya. Suami dan isteri harus mampu membangun komunikasi yang indah dan melegakan, demikian pula orang tua dengan anak, serta sesama anak dalam rumah tangga.

Banyak permasalahan kerumahtanggaan muncul akibat tidak adanya komunikasi yang aktif dan intensif antara suami dengan isteri. Banyak hal yang didiamkan tidak dibicarakan, sehingga menggumpal menjadi permasalahan yang semakin membesar dan sulit diselesaikan. Padahal Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada para suami agar berkomunikasi dan berinteraksi secara bijak kepada isterinya:

“Dan bergaullah dengan mereka secara makruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (An Nisa’: 19).

Muhammad Abduh menjelaskan, “Artinya wajib bagi kalian wahai orang-orang mukmin untuk mempergauli isteri-isteri kalian dengan bijak, yaitu menemani dan mempergauli mereka dengan cara yang makruf yang mereka kenal dan disukai hati mereka, serta tidak dianggap mungkar oleh syara’, tradisi dan kesopanan”.
“Maka mempersempit nafkah dan menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan, banyak cemberut dan bermuka masam ketika bertemu mereka, semua itu menafikan pergaulan secara makruf. Diriwayatkan dari salah seorang salaf bahwa dia memasukkan ke dalam hal ini perihal laki-laki berhias untuk isteri dengan sesuatu yang layak baginya, sebagaimana isteri berhias untuknya”, tulis Abduh.

Termasuk dalam kategori ini adalah ketrampilan berbicara, mendengarkan, bergurau atau bercanda, tertawa, respon dan empati, juga ketrampilan berlaku romantis. Demikian pula ketrampilan mengungkapkan perasaan, menyatakan kecintaan dan kasih sayang, memahami perasaan pasangan. Tidak pula boleh diremehkan, ketrampilan praktis untuk memuaskan pasangan dalam kebutuhan biologis.

Kadang dijumpai suasana rumah tangga yang kaku tanpa canda dan penuh suasana ketegangan. Masing-masing anggota keluarga melakukan sendiri apa yang ingin dilakukan, menyimpan sendiri segala permasalahan dan berusaha menyelesaikannya sendiri-sendiri. Mereka berkomunikasi dalam sepi kepada diri sendiri dan tidak membuka diri terhadap yang lain. Suami merasa diri telah cukup berbuat hanya dengan memberikan kecukupan uang kepada isteri dan anak-anaknya. Isteri merasa diri cukup berbuat hanya dengan menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, serta melayani suami di tempat tidur.

Suasana seperti itu amat jauh dari harapan sebuah keluarga yang sakinah, karena diwarnai oleh suasana individualistis yang tinggi. Permasalahan akan semakin menumpuk dan menjadi gunung yang siap meledak apabila ada simpul-simpul pemicunya. Mereka berbincang di dalam rumah tangga ala kadarnya sekedar untuk berbasa-basi, selebihnya masing-masing disibukkan oleh urusan sendiri. Rumah sebagai tempat kembali yang nyaman tidak mereka dapatkan suasananya.

Rasulullah saw bersabda:

“Tidak boleh lelaki mukmin membenci perempuan mukminah, jika ia tidak menyukai suatu perbuatan, maka ia akan menyukai perbuatan lainnya” (Riwayat Muslim).

Suami tidak boleh berlaku kasar, apalagi sampai ke tingkat memukul dan menendang isteri. Pukulan yang mendidik hanya boleh dilakukan dalam kasus nusyuz. Rasulullah memberikan penghargaan kepada para suami yang berlaku baik terhadap isteri mereka:

“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik di antara kamu dalam bergaul dengan isterinya, dan aku adalah yang paling baik di antara kamu dalam bergaul dengan isteri” (Riwayat Tirmidzi).

Banyak suami yang memiliki kelemahan dalam mendengarkan isi hati isteri. Pada kondisi dimana isteri merasa memerlukan perhatian, ia sangat ingin mencurahkan perasaan hatinya kepada suami. Ia ingin mengobrol dan menyampaikan keinginan dan harapan-harapan yang selama ini terpendam belum terungkapkan. Apabila suami tidak merespon, bahkan bersikap menutup diri terhadap keinginan itu, akan cenderung melahirkan ketertekanan batin pada isteri. Pada kondisi yang telah memuncak, keinginan curhat isteri yang tidak ditampung suami tersebut akan menimbulkan ledakan emosional yang dahsyat.

Isteri akan cenderung lari kepada orang lain, mungkin teman dekat, atau tetangga, mungkin orang tua atau bahkan ke psikolog atau kepada seorang ustadz yang dipercaya, untuk menumpahkan semua permasalahan hatinya. Ia hanya ingin mendapatkan suasana kelegaan hati, dengan menceritakan semua permasalahan yang dihadapi. Isteri akan sangat bergembira apabila bertemu dengan seseorang yang bersedia mendengarkan dan menampung curahan hatinya. Bisa jadi seseorang tersebut tidak memberikan solusi apapun dari permasalahan yang diutarakan, akan tetapi kesediaannya mendengar dan merespon secara positif itu telah amat menenteramkan.

Untuk itu, suami harus menjadi seseorang yang paling enak dan nyaman bagi isteri untuk mencurahkan perasaan hatinya. Jangan dibiarkan isteri tidak mendapatkan kesempatan untuk curhat kepada suami di rumah yang berakibat ia mencari orang lain untuk tempat curhat. Kadang hal seperti ini menimbulkan masalah baru. Apabila orang yang menjadi tempat curhat tersebut adalah teman lelaki sekantornya, atau seorang lelaki yang menjadi teman lamanya semasa kuliah atau sekolah dahulu, lalu ternyata ia mendapatkan kecocokan untuk mencurahkan permasalahannya, akan bisa berkembang menjadi hubungan yang lebih intim dan khusus.

Tentu hal ini menuntut kemampuan suami untuk bisa mendengarkan, menampung dan merespon secara positif perasaan hati isteri. Jangan biarkan permasalahan menumpuk di hati isteri sehingga menjadi gumpalan permasalahan yang tidak terselesaikan.

Suami semestinya mengawali suasana keterbukaan dalam komunikasi sehingga permasalahan sekecil apapun bisa segera direspon dan diselesaikan. Pengakuan Nyonya Noni yang dimuat dalam majalah Ayah-bunda edisi 6 – 9 April 1996 berikut hendaknya menjadi pelajaran bagi yang lain, bahwa keterbukaan dalam komunikasi amatlah penting untuk mempertahankan cinta dalam keluarga.

“Dunia pekerjaan saya mengharuskan saya bergaul dengan banyak orang dari berbagai lapisan, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan boleh dibilang model pergaulannya pun bebas, meskipun saya pikir itu tergantung dari orang yang bersangkutan. Selama ini suami tidak pernah berkomentar negatif terhadap kegiatan saya, tetapi belakangan saya ketahui kalau suami berselingkuh dengan wanita yang sangat belia”, demikian penuturan Nyonya Noni.

“Ketika saya tanyakan, bukan saja dia mengakui tetapi juga mengatakan bahwa hal itu dilakukan karena sebenarnya dia tidak menyukai kegiatan saya. Selama ini saya tidak tahu hal itu karena suami tidak pernah mengatakan terus terang. Akhirnya semenjak delapan bulan yang lalu saya pisah rumah sementara dengan suami”, tambah Nyonya Noni.

Tampak dalam pengakuan di atas, keluarga Nyonya Noni tidak terbiasa melakukan komunikasi secara terbuka. Suami Nyonya Noni tidak pernah mengekspresikan perasaan ketidaksukaannya terhadap pekerjaan dan pola pergaulan Nyonya Noni. Karena tidak pernah berkomunikasi dengan hangat dan terbuka kepada pasangannya, ditambah dengan kesibukan masing-masing menyebabkan rumah tangga Nyonya Noni dilanda kemelut. Suami Noni memilih mengekspresikan ketidaksenangannya dengan melakukan selingkuh, bukan dengan terbuka mengungkapkan keinginan dan harapannya.

Untuk itulah semestinya interaksi dan komunikasi penuh cinta dilakukan dalam rumah tangga, hingga tidak ada ganjalan yang tidak tersampaikan kepada pasangannya.

Oleh : Cahyadi Takariawan
http://wonderful-family.web.id

Tuesday, January 14, 2014

Al Wafa' Bagian 2 : Apa balasan memenuhi janji dan apa balasan melanggarnya?






Jendela Keluarga: Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi sallallahu’alaihi wa sallam telah menunjukkan akan kewajiban memenuhi janji dan sumpah setia. Serta menjelaskan buruknya orang yang melanggarnya atau tidak menepatinya. Terkadang tidak menepati (janji dan sumpa setia) mengarah kepada kekafiran. Sebagaimana terjadi pada Bani Israil dan lainnya. Ketika mereka melanggar janji dan sumpah setia dengan Tuhannya. Mereka meninggalkan janji Allah berupa keimanan, mengikuti para Rasul-Nya. 

Allah berfirman,
"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.’ QS. Al-Isra’: 34. 

dan penuhilah janji Allah.’" (QS. Al-An’am: 152)

Dan Allah berfirman ketika menyanjung para hamba-Nya orang-orang mukmin,
"(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian." (QS Ar-Ra’du: 20)

Nash-nash dalam Kitab dan Sunnah banyak dan jelas petunjuknya akan kewajiban memenuhi (janji)    dan haramnya melanggar dan berkhianat. Semua ayat yang ada lafaz janji dan sumpah setia menunjukkan hal itu baik secara tekstual maupun pemahaman. Dan perilaku Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dan para shahabatnya adalah bukti nyata dalam realisasinya.

Allah menyebutkan manfaat besar di dunia dan akhirat jika seseorang memenuhi janjinya, disamping manfaat nyata bagi  kebaikan masyarakat yang berkesinambungan. Di antara manfaat tersebut adalah,
-   Dalam Al-Quran disebutkan bahwa memenuhi janji termasuk sifat orang-orang bertakwa sekaligus sebab utama dalam menggapai ketakwaan.
Allah Ta’ala berfirman,

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Ali Imran: 76) 

-  Menepati janji termasuk sebab mendatangkan keamanan di dunia dan menghindari pertumpahan darah, melindungi hak para hamba, baik yang muslim maupun kafir. Sebagaimana firmanTa’ala

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (سورة  الأنفال: 72)

(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Anfal: 72)

Dapat menghapus kesalahan dan memasukkan ke surga. Sebagaimana yang kita dapatkan dalam Firman-Nya, "Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 40)

Ibnu Jarir rahimahullah berkomentar, "Janji (Allah) kepada mereka, kalau mereka melakukan hal itu, maka (Allah) akan memasukkan mereka ke surga."

Di surat Al-Maidah, Allah Subahanhu wa ta'ala menyebutkan bahwa Dia telah mengambil janji kuat kepada Bani Israil, kemudian disebutkan balasan janji kuat beserta balasannya. Dalam Firman-Nya, "Sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai." (QS. Al-Maidah: 12)

Dan atsar lainnya yang dengan jelas (menyebutkan hal itu) bagi setiap orang yang mentadaburi Kitabullah dan merenungi sunnah Rasulullah, baik dalam perkataan maupun amalnya.

Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak, kami nasehatkan merujuk kitab ‘Riyadus Sholihin’ karangan Imam Nawawi rahimahullah. Dan kitab ‘At-Targhib Wa At-Tarhib’ karangan Imam Mundziri rahimahullah


Pengkhianatan adalah lawan kata dari amanah dan memenuhi (janji). Kalau amanah dan memenuhi janji termasuk karakter keimanan dan ketakwaan, maka khianat dan melanggar (janji) termasuk karakter kenifakan dan kedurhakaan. Na'uzubillah.
Dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda: 

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ  ( رواه البخاري، رقم 3178 و مسلم، رقم 58)

“Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai  dia meninggalkannya." (HR. Bukhari, 3178 dan Muslim, 58)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلا عَدْلٌ  ( رواه البخاري، رقم 1870 و مسلم، رقم  1370)
"Barangsiapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan." (HR. Bukhari, 1870 dan Muslim, 1370)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ الْغَادِرَ يَنْصِبُ اللَّهُ لَهُ لِوَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ أَلَا هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ (رواه البخاري، رقم 6178، و مسلم، رقم 1735)

"Sungguh, Allah akan tancapkan bendera bagi orang yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan: ‘Ketahuilah ini adalah pengkhianatan di fulan." (HR. Bukhari, no. 6178, dan Muslim, no. 1735)

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa dijadikan orang-orang yang menepati janji dan sumpah setia. Serta kita berlindung dari pengkhianatan dan melanggar janji. Semoga kita juga mendapatkan taufik agar baik dalam perkataan dan perbuatan. Segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh alam. Silahkan merujuk kitab Al-‘Ahdu Wal Mitsaq Fil Al-Qur’an Al-Karim, karangang Prof. DR. Nasir Sulaiman Al-Umar.

Monday, January 13, 2014

Jambore Anak Sholih Darussalam


Jendela Keluarga: Selasa 14 Januari 2014 bertepatan dengan hari Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Darussalam Kompleks Perumahan Muslim Darussalam Mejing Wetan, Ambarketawang, Gamping, Sleman Mengadakn Jambore Anak Sholih Darussalam. Acara dimulai pukul 07.30 WIB. Acara dimulai dengan melakukan gerakan pemanasan/ warming up kemudian dilanjutkan dengan pembagian kelompok, nama kelompok dan komandan kelompok. Jambore anak sholih diikuti seluruh anak-anak yang tinggal di perumahan muslim darussalam. Total peserta yang ikut dalam acara jambore anak sholih ini sekitar 90 anak.

Jambore anak sholih darussalam kali ini dikemas sangat unik sekali, kegiatan di bagi menjadi tujuh pos, masing-masing pos terletak di salah satu rumah tempat warga di perumahan darussalam. pada saat anak-anak tiba di masing-masing pos anak-anak diajarkan bagiamana adab-adab bertamu. Ketujuh pos tersebut yaitu pos pertama anak-anak melakukan lomba melipat sarung dan mukena. Pos kedua anak-anak belajar memasak bubur. Pos ketiga anak-anak belajar memasak kue kukus dan es buah. Pada pos kedua dan ketiga anak-anak belajar memasak mulai dari bahan-bahan masakan, cara memasak, hingga saat menghidangkannya. Kemudian hasil hidangan makanannya dimakan bersama-sama dalam kelompok mereka masing-masing, termasuk didalamnya diajarkan tentang etika makan secara islami. Kemudian anak-anak juga diajarkan untuk membersihkan alat-alat masak yang telah digunakan. Pos keempat anak-anak lomba tahfidz. Pos kelima lima anak-anak di ajari membuat roket air hingga mencoba meluncurkan roket air. Pos keenam anak-anak melakukan halang rintang dengan meniti satu batang pohon bambu yang dilanjutkan dengan bermain ayunan yang terbuat dari ban bekas. setelah dilanjutkan dengan kegiatan merayap di halang rintang yang telah disediakan. dan Pos terakhir anak-anak bermain perang air.
































By. Admin (Aris Nurkholis)