Selamat Datang di Web Jendela Keluarga Aris Nurkholis - Ratih Kusuma Wardani

Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami

Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.

Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Cinta Tanpa Syarat

Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Cinta Tidak Harus Dengan Kata

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.

Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta

Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.

Friday, January 24, 2014

Agar Bisa Menikmati Jalan Dakwah






Jendela Keluarga: Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.

Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.

Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.

Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.

Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya  perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.

Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.

Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.

Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
 
Cahyadi Takariawan 

Thursday, January 23, 2014

Cinta Kerja Harmoni

Cinta - Kerja - Harmoni



[Video] : Pembelajaran IPA Kelas 4 SD Juara Yogyakarta

 

Jendela Keluarga: Video ini di buat dari pengalaman pembelajaran kelas 4 SD Juara Yogyakarta untuk mata pelajaran IPA. Video ini berisi kumpulan photo-photo dokumentasi selama pembembelajaran IPA di kelas 4 untuk semester ganjil. Semoga video ini menjadi Inspirasi dalam pembelajaran di kelas.



Wednesday, January 22, 2014

Belajar Kesabaran dari Istri Fir'aun

 

Jendela Keluarga - “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”. (QS At Tahrim: 11) .

Ayat tersebut adalah bercerita tentang seorang istri yang sabar menghadapi perilaku buruk suaminya, dan sekaligus membantu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Dalam kasus tersebut, istri Fira’aun, Asiyah binti Muzahim, sangat sabar menerima kekejaman Fir’aun terhadap dirinya.

 
Wanita paling utama di surga adalah Khadijah binti Kuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR Ahmad dan Thabrani). Dirinya tetap tabah dan sabar menghadapi kekejaman suaminya dan hanya pasrah pada Allah SWT.
 
Seorang istri penyabar seperti istri Fir’aun yang Allah SWT gambarkan pada ayat tersebut tentu memberikan jasa sangat besar dalam memelihara keutuhan rumah tangga, kebahagiaan suami dan kegembiraan anak-anaknya.
 
Ia tidak akan mudah menceritakan kesulitan dan berbagai permasalahan yang akan menyedihkan dan mecemaskan suaminya. Walaupun sebenarnya istri menyimpan kepahitan dalam hatinya, semua kesulitan dihadapinya dengan penuh ketabahan dan sikap pasrah kepada Allah. Hal itu menjadikan rumah tangganya selalu dipenuhi kegembiraan, keceriaan dan penuh tawa.
 
Sabar dalam bahasa Arab bisa diartikan lapang dada menerima kesulitan, kepahitan dan rintangan tanpa keluh kesah, menggerutu dan lainnya. Bila seseorang menggerutu menghadapi kesulitan, jengkel dan marah menghadapi rintangan. Dia dikatakan tidak sabar.
 
Istri yang sabar, maka ia akan memberikan semangat, motivasi dan dorongan hidup kepada suaminya  menghadapi segala macam hadangan dan rintangan, namun ia juga dapat menjaga kehormatan suami di hadapan anak-anak, orang lain dan lain sebagainya.
 
Walaupun dalam kondisi nyata, riil, pada kehidupan sekarang ini sangat sulit, susah, jarang terjadi dan lainnya. Namun, sikap semacam ini akan memunculkan hubungan yang cukup mesra dalam rumah tangga, karena anak-anak selalu menaruh hormat kepada bapaknya.
 
Dan sebaliknya, jika istri seorang yang pemarah, serta karakter kurang baik lainnya, maka akan menimbulkan konflik berkepanjangan dalam rumah tangganya. Bahkan konflik tersebut bisa melebar kepada anak-anak, orang tua, tetangga, bahkan masyarakat.
 
Jika hal ini terjadi, pasti anak-anak dalam rumah tangga semacam ini akan mengalami stress dan kebingungan. Selain itu, tetangga pun akan merasa enggan berdekatan dengan rumah tangga yang dipenuhi konflik.
 
Oleh karena itu, setiap laki-laki sangat perlu memperhatikan sifat calon istrinya (--begitu pula sebaliknya, setiap wanita juga sangat perlu untuk memperhatikan sifat calon suaminya--) apakah dia bersifat penyabar atau pemarah, tabah menempuh kesulitan atau manja.
 
Hal ini perlu diketahui oleh pasangan (suami dan istri), sebab sifat buruk banyak berpengaruh dalam hidup berumah tangga. Karena itu pastinya tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga dengan suasana penuh permusuhan, pertentangan, perselisihan dan yang hanya akan menciptakan hidup penuh derita dan nestapa.

Semoga keluarga atau mahligai pernikahan yang sudah kita bangun dari awal tidak kandas di tengah jalan. Semoga bahtera ini akan terus berjalan hingga layar terus berkembang tiba ditempat yang dituju.  Wallahua’lam.
Oleh: Ust. Cepi Permana [sumber: islamedia.web.id]

Politik Kotor Sang Pemimpin


Jendela Keluarga: Ibnu Katsir dalam "Bidayah wa Nihayah" menuturkan kisah sederhana tentang Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam datanglah Raja' ibn Haiwah, sang alim di kediaman Umar ibn Abdul Aziz. Raja' ibn Haiwah, kita mengenalnya sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam pengangkatan Umar ibn Abdul Aziz. Di tengah sistem mulk yang menyesakkan dada, ia tak berputus asa. Ia dekati sang raja, Sulaiman ibn Abdul Malik, lalu menanamkan pengaruh. Ia berusaha hadirkan kebajikan dan cegah kemadharatan selagi masih berkesanggupan.

Ya, lelaki alim itu lebih memilih menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Ia ikuti kaidah ushul: maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh. Sesuatu yang tak dapat diraih seluruhnya, janganlah ditinggalkan semuanya. Hasilnya, ia berhasil munculkan Umar ibn Abdul Aziz di tengah sistem yang rusak. Semula Baitul Maal banyak dikuras untuk kepentingan penguasa, lawan politik diberangus bahkan ribuan mati tanpa pengadilan, kebebasan berpendapat terbelenggu, tapi akhirnya semua berubah total.

Nah, malam itu, sang alim datang ke kediaman Umar ibn Abdul Aziz. Mereka berbincang hangat. Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba lampu padam. Barangkali minyak lampu habis. Tapi Umar ibn Abdul Aziz masih terdiam. "Tidakkah kamu panggil pelayanmu agar bersedia menambah minyak lampu ini?" kata Raja' ibn Haiwah. Malam telah cukup larut. Ruangan sangat gelap.

"Mereka sudah tertidur. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya," jawab tuan rumah.

"Kalau begitu," kata Raja' ibn Haiwah, "aku saja yang melakukannya."

"Jangan gurunda," jawab Umar ibn Abdul Aziz, "bukanlah kemulian tatkala tuan rumah meminta bantuan dari tamunya." Setelah itu Umar beranjak. Ia ambil lampu yang padam lalu bergegas pergi menambah minyak yang habis. Sesaat kemudian ia kembali. Pada sang guru yang alim ia berujar santun, "Tadi Umar berdiri dan pergi, kini aku datang lagi dan masih sebagai Umar ibn Abdul Aziz."

Kisah di atas teramat sederhana, tapi melukiskan pribadi yang tak sederhana. Melakukan perkara-perkara kecil yang kadang merupakan tugas orang lain, tapi ia bersedia menunaikan, itu jelas bukan perkara sederhana. Apalagi bagi seorang khalifah, itu jelas luar biasa. Tapi di zaman ketika amal dan kesalihan tidak lagi menjadi ukuran, ia akan tampak disamarkan dengan label pencitraan. Ketika zaman lebih banyak dipengaruhi tayangan media dan seloroh host televisi, kadang mata hati kita teramat buram membaca ketulusan dan akhlak yang sebenarnya. Sungguh, sekira tulisan ini adalah nasihat, ia tak pantas ditujukan pertama kali untuk orang lain. Ia lebih pantas ditujukan untuk penulisnya sendiri. Betapa mudah saya menilai seseorang dari komentar dan seloroh pembawa acara di televisi; saya lupa, kadang akhlak seseorang bukanlah sepotong yang ditampilkan televisi.

Umar ibn Abdul Aziz rela berpayah dan berkotor-kotor. Ia teladani Sang Rasul yang rela gali parit dengan tangan beliau sendiri menjelang Pang Khandak. Maka, jika hari ini ada para salih negarawan yang bersedia teladani Rasul dan Umar ibn Abdul Aziz, rasa-rasanya saya sangat malu. Ketika mereka bersedia kotor untuk bersihkan lingkungan, bersihkan masjid dan tempat ibadah, bersihkan jalanan, sambangi korban bencana, sungguh itu bukan amal buruk. Ia adalah kebajikan yang layak diteladani.

Tapi di negeri yang sakit, tanpa sadar, kita turut kena imbasnya. Kebaikan bukan untuk diteladani, tapi untuk dicurigai. Jabat tangan pun akan menyakitkan bagi mereka yang ada luka di jari jemarinya. Kita sibuk menggunjingkan harga tenda presiden yang mahal saat akan berkunjung ke Sinabung, kita ribut menelisik para relawan partai politik yang bekerja dengan atribut, kita gaduh dengan bantuan berlabel partai serta caleg, kita riuh untuk sesuatu yang orang lain lakukan, tapi lupa dengan apa yang mesti kita perbuat.

Sekali lagi maafkan, tulisan ini adalah teguran yang lebih layak dialamatkan untuk penulisnya sendiri daripada untuk orang lain. Sebab, tanpa Anda ketahui, pada skala yang lebih kecil, saya pun sering menilai dengan cara yang sama.

Hanya pada Allah saya mohon ampunan. Semoga Allah hadirkan dalam diri kita semangat Raja' ibn Haiwah untuk datangkan kebaikan di negeri ini dengan kejernihan untuk hadirkan sosok-sosok yang bersedia teladani Umar ibn Abdul Azizi, para pemimpin yang siap kotor demi rakyatnya.
 


 
Oleh: Ustd. Dwi Budiyanto

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga




Jendela Keluarga: MAHA SUCI Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Berjenis laki-laki dan perempuan. Ada kutub positif dan kutub negatif. Ada siang dan malam. Suka dan duka. Sedih dan gembira. Jika bisa dikelola dengan baik, perputaran dan pergiliran dua keadaan yang saling kontradiktif, kehidupan manusia menjadi dinamis dan romantis.

Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin (36) : 36)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum (30) : 20-21).

Mitsaqan Ghalizha

Ayat ini ditempatkan Allah Subhanahu Wata’ala pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaranNYA di alam semesta – tegaknya langit, terhamparnya bumi, turunnya air hujan, gemuruhnya suara halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan dan mengajarkan kepada kita betapa Ia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan/pendamping setia hidup manusia.

Diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala bumi dengan segala yang ada di atasnya – samudera luas, bukit tinggi, rimba belantara – untuk kebahagiaan manusia. Diedarkan Allah Subhanahu Wata’ala mentari, rembulan, gugusan bintang-gemintang, dijatuhkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya pepohonan, dan disirami-Nya tetanaman, semua karunia itu untuk kebahagiaan manusia.

Tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Mengetahui memberikan lebih daripada itu. Diketahui-Nya getar dada kerinduan hati. Yaitu bersanding sehidup semati dengan si jantung hati. Betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang bersedia menerima segala perasaan – tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu diciptkan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, pada saat kita diharu biru, diempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati – tanpa pura-pura, prasamgka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih.

Supaya hubungan antara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta, dan kasih sayang, Allah Subhanahu Wata’ala menetapkan suatu ikatan suci, yaitu aqad nikah. Dengan ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang masiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun berubah menjadi cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) dan ulfah (hubungan yang jinak).

Begitu besarnya perubahan itu sehingga Al Quran menyebut aqad nikah sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut di dalam Al Quran.

Pertama, ketika Allah Subhanahu Wata’ala membuat perjanjian dengan para Nabi – Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: Al Ahzab (33): 7).

Kedua, ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat Bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُلْنَا لَهُمْ لاَ تَعْدُواْ فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina karena (mengingkari) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka : Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: An Nisa (4) : 154).

Ketiga, ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisa (4) : 21).

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Mitsaqan ghalizha berarti kita sepakat untuk menegakkan dinul islam dalam rumah, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan masiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasihat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.

Pernikahan juga bermakna sepakat meniti hari demi hari dengan kebersamaan. Sepakat untuk saling melindungi dan menjaga. Saling memberikan rasa aman. Saling mempercayai dan menutup aib. Saling mencurahkan dan menerima keluhan dan perasaan. Saling berlomba dalam beramal. Saling memaafkan kesalahan. Saling menyimpan dendam dan amarah.

Pernikahan berarti pula sepakat untuk tidak melakukan penyimpangan. Tidak saling menyakiti perasaan dan pisik. Juga sepakat untuk mengedepankan sikap lemah lembut dalam ucapan, santun dalam pergaulan, indah dalam penampilan, mesra dalam mengungkapkan keinginan.

Ijab Qabul, Bukan Peristiwa Kecil

Karena itu peristiwa aqad nikah bukanlah kejadian kecil di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Akad nikah sama tingginya dengan perjanjian para rasul, sama dahsyatnya dengan perjanjian bani Israil di bawah bukit Thursina yang bergantung diatas kepala mereka.

Peristiwa aqad nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orangtua, sudara-saudara, dan sahabat-sahabat, sanak famili, handai taulan, tetangga, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Penguasa alam semesta.

Bila perjanjian ini disia-siakan, diceraikan ikatan tali hubungan yang sudah terbuhul, diputuskan janji setia yang telah terpatri, kita tidak saja harus bertanggung jawab kepada semua yang hadir menyaksikan peristiwa yang berkesan itu, tetapi juga bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala Swt.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلىَ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا (رواه البخاري ومسلم

“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Kata Rasulullah, “Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya.” (Al Hadits).

Mengapa Kita Memelihara Ikatan Itu ?

Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara aqad nikah yang sakral ini? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya? Mengapa suami dan isteri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?
Jawabannya sederhana: Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang dicintai mereka, yakni dengan keluarganya. Bila di dunia ini ada surga, kata Marie von Ebner Eschenbach, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi, bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Para psikolog menyebutkan persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.

Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh kaum muslimin. Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu ummat islam yang pertama, Rasulullah saw. menyampaikan khotbah perpisahan.

اَيُّهَا النَّاسُ فَا تَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَاِنَّكُمْ اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْكُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ , اِنَّ لَكُمْ عَلىَ نِسَائِكُمْ حَقًّا , وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَاِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ , لاَ يَمْلِكُنَّ ِلاَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا وَلَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً

“Wahai manusia, takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah Subhanahu Wata’ala. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Turmudzi)

Tuesday, January 21, 2014

Al Wafa Bagian 3 : Kisah-kisah Menepati Janji


1.  Menepati janji dalam membayar hutang

Rasulullah berkisah: Ada seorang Bani Israil (A) yang meminjam 1000 dinar kepada salah seorang dari Bani Israil (B).

Si B meminta A untuk mendatangkan saksi. Si A berkata : Cukuplah Allah sebagai saksi. Si B meminta ditunjukkan kafil (penjamin). Si A menjawab cukuplah Allah sebagai penjamin. 

Si B percaya dan ia berikan 1000 dinar itu, sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama.Lalu si A pulang ke kampungnya di seberang sana. Ia kumpulkan uang hingga cukup jumlahnya samapai batas waktu pembayarannya. 

Ketika jatuh tempo itulah si A mencari kapal penyebrangan untuk membayar hutangnya. Tetapi tidak ada kapal penyebrangan hari itu. 

Akhirnya si A mengambil sebatang kayu, ia lubangai kayu itu dania masukkan 1000 dinar pinjamannya itu disertai pesan kepada saudaranya di seberang. Ia ceburkan kayu itu ke laut, disertai doa:

”Ya Allah Engkau Yang Maha Mengetahui, bahwa saya pernah berhutang 1000 dinar kepada seseorang, ketika ia meminta jaminan, saya katakan : “Cukuplah Allah sebagai penjamin” dan ia menerima. Ketika ia meminta saksi, saya katakan : “Cukuplah Allah sebagai saksi” dan iapun menerima. Dan sekarang saya sudah berusaha mencari penyebrangan untuk membayarkannya, tetapi saya tidak menemukannya, maka sekarang saya titipkan ini kepadamu Ya Allah”. 

    Setelah itu ia pergi sambil mencari kapal yang bisa menyeberangkannya. Si B yang dijanjikan dibayar pada hari itupun keluar ke pantai menunggu kapal yang datang, menjemnput Si A yang meminjam uang kepadanya. Kapal tidak ada yang merapat. Akhirnya ia memutuskan pulang. Ketika hendak pulang itulah ia melihat kayu mengapung. Daripada pulang dengan tangan kosong ia ambil kayu itu, siapa tahu berguna untuk kayu bakar. 

Sesampai di rumah kayu itu ia belah untuk dijadikan kayu bakar. Ketika dibelah, ditemukanlah 1000 dinar dan catatan dari si A diseberang. 

Si A yang terus berusaha mencari kapal penyebrangan akhirnya menemukannya. Dan berhasil menyebrang ke rumah si B. 

Sesampainya di rumah B, si A menyodorkan 1000 dinar, dengan mengatakan : “Demi Allah, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kapal penyeberangan guna membayar hutang, dan saya tidak menemukannya kecuali hari ini. 

Kata si B. “Tidakkah kamu telah mengirimkannya kepadaku?
Kata A: “ Bukankan telah saya katakan bahwa saya tidak mendapatkan  kapal penyebrangan.
Kata si B:”Sesungguhnya Allah telah menyampaikan kepadaku apa yang engkau letakkan di dalam kayu bakar. (Ibn Katsir, 1: 447)

a.      Abdullah bin Amir

Abdullah bin Amir berkata, ”Suatu hari ibuku memanggilku sedangkan Rasulullah sedang duduk di rumah kami, maka ibuku berkata, ’Hai, kemari, akan kuberi kamu’ Maka Rasulullah berkata kepada ibuku, ’Apakah engkau mau memberinya?’ Ibuku menjawab, ’Aku mau memberinya kurma’ Berkata Rasulullah, ’Apabila engkau tidak memberinya sesuatu sungguh akan ditulis sebagai kebohongan.” (HR. Baihaqi dalam Syu’banul Iman).

Pelajaran dari kisah ini: Jika kita melakukan itu kepada anak-anak sedangkan yang sebenarnya tidak ingin memberinya, maka berarti
-          mengarjakan kebohongan
-          mengajarkan untuk tidak menepati janji
-          mendorong untuk tidak tsiqoh

b.       Abdullah bin Abil Hasma

Aku berjual-beli dengan Nabi SAW sebelum b’tsah, aku menyisakan kembalian pada beliau, lalu aku berjanji akan membawanya di suatu tempat, tapi aku lupa. Aku ingat setelah tiga hari kemudian, lalu aku mendatangi tempat itu dan aku dapati beliau ada di tempat itu. Beliau berkata, ”Sungguh engkau telah menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari menunggumu” (HR. Abu Daud)

c.      Jabir bin Abdillah

Jabir bin Abdillah berkata, ”Ketika meninggalnya Rasullah SAW dan datang kepada Abu Bakar harta benda dari Hadhrami, maka berkata Abu Bakar, ’Siapa yang memiliki piutang kepada Nabi SAW atau pernah dijanjikan sesuatu oleh beliua, datanglah kepada kami’ Maka Jabir berkata, ’Aku pernah dijanjikan Nabi akan diberi ini, ini, ini” sambil membentangkan tangannya tiga kali. Jabi berkata, ’Maka Abu Bakar memberikan 500’. Abu Bakar berkata, ’Ambil lagi yang sebanyak itu!’ (HR. Bukhori-Muslim)

d.       Ibnu Juhaifah dan Abu Bakar

Abi Juhaifah pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW akan diberi 13 qulush (onta betina muda) lalu aku mendatanginya, tapi beliau wafat hingga aku tidak diberi apapun. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, beliau berkata, ’Siapa yang memiliki janji dengan Rasulullah Saw, datanglah kepadaku.’ Maka aku berdiri dan memberitahukannya lalu beliau memerintahkan untuk memberi kepada kami.” (HR. Tirmidzi)

2.      Kewajiban tepat janji dan ancaman bagi yang tidak menepatinya

  1. Tidak menepati janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda : “Ada empat hal jika ada pada seseorang maka jadilah ia munafik tulen, dan jika ada sebagainnya maka ia memiliki ciri-ciri kemunafukan, hingga ia bisa meninggalkannya. 1). Jika dipercaya ia berkhianat, 2). Jika berbicara ia berdusta, 3). Jika berjanji mengingkari, 4). Jika berdebat ia curang.” Muttafaq alaih

  1. Menjadi musuh Allah di hari kiamat. Sabda Nabi : Allah berfirman ”Ada tiga orang yang menjadi musuhku di hari kiamat:1). Orang yang menjanjikan pemberian lalu mengingkari, 2). Orang yang menjual orang merdeka lalu ia makan hasilnya, 3). Orang yang mempekerjakan seseorang dan telah memenuhi permintaannya lalu tidak dibayrakan upahnya.HR. Al Bukhariy.

Salah satu bentuk kezaliman. Sabda Nabi : “Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran hutang adalah perbuatan zalim….”Muttafaq alaih.