Abu Bakar Ash-Shiddiq bertugas menyertai Rasulullah saw dalam perjalanan. Abdullah putera Abu Bakar bertugas sebagai mediator informasi yang berkembang di kalangan orang-orang Quraisy untuk disampaikan kepada Rasulullah saw dan ayahnya yang bersembunyi di Goa Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami
Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.
Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah
Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.
Cinta Tanpa Syarat
Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.
Cinta Tidak Harus Dengan Kata
Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.
Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta
Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.
Friday, January 31, 2014
Keluarga Da'wah Keluarga Barokah
Abu Bakar Ash-Shiddiq bertugas menyertai Rasulullah saw dalam perjalanan. Abdullah putera Abu Bakar bertugas sebagai mediator informasi yang berkembang di kalangan orang-orang Quraisy untuk disampaikan kepada Rasulullah saw dan ayahnya yang bersembunyi di Goa Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Thursday, January 30, 2014
Makna (Cinta) Keluarga Dalam Setiap Jiwa Penghuninya
Sumber: http://www.dakwatuna.com/
Wednesday, January 29, 2014
Menyingkirkan Sombong Dan Riya’ Dari Hati Kita
Saudaraku,
Yunus bin Ubaid rahimahullah pernah bertutur:
“Umat ini tidak akan pernah terkena riya’ murni ataupun sombong yang utuh.”
Ia ditanya, “Kenapa bisa demikian?.”
Ia menjawab, “Tiada kesombongan total dengan bersujud. Dan tiada pamer murni jika hati diwarnai tauhid.”
Saudaraku,
Jika kita ingin mengikis habis kesombongan yang bersemayam di dalam kalbu kita, maka jalan yang kita tempuh adalah banyak bersujud kepada Allah Ta’ala. Itu artinya semakin banyak kita sujud dan tunduk di hadapan-Nya, maka kesombongan kita semakin menyingkir dari hati kita.
Sujud menyimbolkan ketundukan hati, pikiran, anggota tubuh kita kepada Zat yang mahakuat, mahaperkasa dan mahamengayomi.
Sujud juga merupakan indikasi kuatnya ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Semakin kita memperbanyak sujud, maka puncak ubudiyah semakin dekat.
Saudaraku,
Orang yang pamer dalam amalannya, pertanda nilai dan bobot tauhid dalam hatinya sangat lemah. Bahkan pohon tauhid dalam dirinya telah terancam punah.
Menyuburkan pohon tauhid tentunya dengan menyiraminya dengan hujan iman. Sementara tanaman iman akan lesu dan bahkan kering, jika hama riya’ dan wereng sum’ah, mengganggu pertumbuhannya.
Saudaraku,
Mari kita singkirkan riya dan sombong dari tubuh kita, dengan melestarikan tauhid dalam hati kita dan memperbanyak sujud dan menghiba di hadapan-Nya. Semoga.
Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc.
Tuesday, January 28, 2014
Dimanakah Posisi Kita?
Saudaraku,
Saat kita merasakan lelah dalam mengarungi kehidupan
Saat kita rasakan hambar di majlis ilmu
Saat semangat kita redup untuk menambah ilmu pengetahuan
Saat kita resah berada di sekitar ahli ilmu
Saat kita tak bergairah untuk menularkan ilmu kepada orang lain
Saat kita malas untuk mengulang-ulang hafalan yang telah ada
Saat Allah terasa jauh dari kehidupan kita
Saat debu-debu syirik menempel di rumah-rumah kita
Saat lidah terasa kelu untuk berzikir dan memuji-Nya
Saat sinar petunjuknya tak menyinari kalbu kita
Saat kita futur dan lemah dalam mendaki puncak ubudiyah
Saat kita selalu sibuk dengan urusan dunia, karir dan pekerjaan kita
Saat akherat menjauh dan bahkan kita lupakan
Saudaraku,
Mungkin sudah saatnya kita mengenang kembali nasihat Ibnul Qayyim, agar kita mengevaluasi bekal kita menuju Allah. Bekal ilmu pengetahuan.
Ibnul Qayyim berkata,
“Dengan ilmu kita mengenal Allah dan mengabdi kepada-Nya.
Dengannya kita mengingat dan mentauhidkan-Nya.
Dengannya kita senantiasa memuji dan mengagungkan-Nya.
Dengannya para pendaki puncak ubudiyah selalu dalam petunjuk-Nya.
Di atas jalan ilmu, orang yang kembali akan sampai kepada-Nya.
Dari pintu ilmu, hamba-hamba-Nya masuk ke surga-Nya.
Mengulang-ulang ilmu yang pernah dikecap merupakan tasbih
Mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad
Mencarinya adalah taqarrub kepada Allah
Menularkannya adalah sedekah
Mengkaji dan mengajarkannya setara dengan shiyam dan shalat malam
Kebutuhan manusia terhadapnya melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman.
(Madarijul salikin, Ibnul Qayyim).
Saudaraku,
Mari kita instrospeksi diri. Sudahkah kita layak menjadi bagian dari ahli ilmu? Penuntut ilmu? Yang mengajarkan ilmu? Atau seperti apa diri kita sekarang ini? Jawablah dengan kejujuran hati nurani. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc. (manhajuna.com)
Monday, January 27, 2014
Keluarga Dakwah, Basis Kekuatan Umat
Jendela Keluarga: Medan pertarungan utama antara Islam dengan jahiliyah adalah pertarungan sosial, antara tatanan masyarakat Islam dengan tatanan sosial jahiliyah. Kedua fenomena ini bertolak belakang, yang satu dibangun di atas landasan Aqidah Islamiyah, Syariat Islam dan akhlaqul karimah, sementara yang lain dibangun di atas pondasi cinta dunia dan hamba nafsu.
Pertarungan ini berlangsung semenjak masyarakat Islam masih lemah di tengah hegemoni masyarakat jahiliyah, maupun setelah masyarakat Islam menjadi pemenang dan mendominasi. Maknanya, masyarakat Islam tak pernah kehilangan kekhasan ini, meski sedang sulit atau dikuasai musuh.
Keluarga memiliki peran kunci dalam membangun tatanan masyarakat Islami. Satuan sosial terkecil yang membentuk masyarakat adalah keluarga. Oleh karenanya, keluarga harus menjadi fokus garapan untuk menjadi bahan baku membentuk masyarakat Islami. Masyarakat yang menyadari perannya sebagai barisan pasukan yang berhadap-hadapan dengan barisan prajurit sosial jahiliyah.
Ada Perintah di balik Keluarga
Allah swt berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menjelaskan sunnatullah bahwa seorang pria ditaqdirkan Allah memerlukan wanita sebagai pasangan hidup agar si pria terjinakkan nafsunya dengan pasangan halal tersebut. Selain itu juga naluri cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) bisa disalurkan dengan panduan syariat Allah. Kenyataan yang tak bisa ditolak manusia ini merupakan salah satu “ayat-ayat kauniyah” (tanda-tanda kekuasaan Allah), sama dengan tanda kekuasaan yang lain seperti hukum alam tentang peredaran siang malam, matahari bulan, kehidupan kematian, dan sebagainya.
Padahal kita tahu, di balik tanda-tanda kekuasaan Allah, ada perintah syariat yang menyertainya. Di balik peredaran siang malam, ada perintah sholat lima waktu. Di balik fenomena fajar, ada perintah sholat Shubuh. Di balik fenomena tengglamnya matahari, terdapat perintah sholat Maghrib. Demikian halnya, hubungan menyatu antara pria dan wanita karena terpuaskannya syahwat, terjalinnya cinta dan terpeliharanya kasih sayang, harus dijadikan tanda untuk sebuah perintah di baliknya.
Jika keluarga yang dibangun seorang muslim hanya dalam rangka menghasilkan sakinah, mawaddah wa rahmah, maka keluarga tersebut baru melaksanakan kehendak kauniyah (hukum alam) Allah. Adapun kehendak syar’iyyah (hukum kalam) Allah belum dilaksanakan. Jika demikian, tujuan pernikahan menjadi sangat simpel, sekedar menghalalkan saluran syahwat, hubungan cinta dan kasih sayang antara dua orang manusia yang boleh jadi sudah terjalin lama sebelum menikah melalui pacaran.
Keluarga Jahiliyah
Keluarga yang dibangun melalui ikatan pernikahan dalam konsepsi Jahiliyah sangat sederhana. Pernikahan hanya sebuah momentum pengumuman kepada khalayak bahwa kedua manusia tersebut saling memiliki. Pria memiliki wanita dan wanita memiliki pria. Bahkan di Barat pengumuman kepemilikan ini diperluas, menjadi pria boleh memiliki pria dan wanita boleh memiliki wanita. Mengapa ? Karena dalam konsepsi Jahiliyah, cinta adalah segalanya. Bila seorang pria mencintai pria yang lain, ia berhak melegalkannya dan mengumumkannya dalam ikatan pernikahan, untuk mendapatkan sakinah wawaddah wa rahmah.
Kepemilikan yang dimaksud dalam pernikahan Jahiliyah hanya kepemilikan untuk menyalurkan syahwat. Adapun aurat, itu bukan termasuk kepemilikan, oleh karenanya boleh laki-laki bukan suaminya untuk melihat aurat. Bahkan, semakin keseksian dan aurat istrinya dikagumi banyak mata, sang suami makin bangga. Alam pikiran Jahiliyah yang sudah menular sebagiannya kepada umat Islam.
Dalam mengelola aset keluarga berupa anak-anak, keluarga Jahiliyah juga tak memiliki konsep yang jelas. Dengan aqidah Liberalisme dan Pluralisme, anak-anak dibebaskan memilih kesukaannya, tak ada konsep benar dan salah. Semua baik bagi anak-anak sepanjang membuat masa depan mereka cerah dalam percaturan dunia.
Bila kita sepakat dengan ciri-ciri keluarga Jahiliyah tersebut, maka kita berhak miris. Kaum muda Umat Islam makin banyak yang tak lagi peduli dengan tujuan mulia dibangunnya keluarga. Pernikahan hanya menjadi upacara hambar di ujung sebuah jalan panjang bernama pacaran bahkan “kecelakaan”.
Keluarga Dakwah, Bukan Hanya Keluarga Samara
Pernikahan untuk membangun keluarga adalah sebuah tanda alam, sunnatullah kauniyah, seperti tanda alam lain. Pernikahan – baik dilakukan muslim maupun kafir – bertujuan melanggengkan sakinah, mawaddah dan rahmah (samara). Fakta membuktikan, banyak pasangan non muslim yang pernikahannya harmonis hingga puluhan tahun, saling cinta, setia dan kasih sayang sampai ajal. Artinya, samara bukan monopoli muslim, karena memang hanya sebuah tanda kekuasaan Allah yang terjadi secara umum.
Jadi yang khas pada pernikahan muslim bukan pada samara-nya, tapi pada perintah syariat di balik samara tersebut, apa peran keluarga muslim dalam ikut mendakwahkan dan membela Islam. Ada banyak syariat yang mutlak membutuhkan keluarga samara dalam pelaksanaannya. Ada dakwah, amar makruf nahi munkar, sedekah, pendidikan Islam, bahkan jihad fi sabilillah. Syekh Rifai Surur meringkasnya dengan istilah Keluarga Dakwah, keluarga yang tercelup dengan nafas dakwah dan bergerak dengan spirit dakwah.
Bahkan, dinamika dan lika-liku perjalanan dakwah yang diemban keluarga, bisa menjadi batu ujian yang sangat ideal untuk cinta dan kesetiaan pasangan. Demikian pula sebaliknya, di tengah dinamika cinta dan kesetian keluarga, bisa dilakukan ibadah dan pengabdian kepada Allah. Di tangan keluarga dakwah, resiko dakwah justru menguatkan samara dan sebaliknya samara menjadi media melaksanakan dakwah.
Nabi Ibrahim as setelah menikah dengan Hajar dan dikaruniai anak, Sarah cemburu dengan meminta Ibrahim as menyingkirkan jauh-jauh Hajar dari pandangannya. Ini adalah dinamika samara dalam keluarga. Tapi uniknya, sambil memberi solusi atas dinamika keluarga ini, Ibrahim as diperintahkan oleh Allah untuk menempatkan Hajar dan putranya di Mekah, lembah kering di tengah padang pasir jauh dari kediaman Sarah. Satu pekerjaan untuk dua tujuan; solusi masalah rumah tangga, sekaligus pelaksanaan perintah Allah. Indah sekali !
Dari kisah ini dapat ditarik pelajaran: laksanakan dakwah, niscaya Allah akan berikan solusi masalah rumah tangga kita, seperti Allah memberi solusi masalah rumah tangga Ibrahim ! Sebaliknya, abaikan dakwah, niscaya kita hanya akan disibukkan dengan urusan rumah tangga karena tak ada “jalan keluar langit’ yang tersedia. wallahu a’lam bis-showaab.
by elhakimi (elhakimi.wordpress.com)
Sunday, January 26, 2014
Kehangatan Rumah Jangan Melenakanmu Dari Perjuangan
Jendela Keluarga: Mengurus keluarga itu sangat penting. Membahagiakan keluarga, adalah bagian dari kewajiban. Namun tidak boleh terlena oleh kehangatan keluarga, yang menyebabkan kita melalaikan kewajiban dakwah dan tidak menunaikan amanah. Semua amanah harus ditunaikan dengan sepenuh tanggung jawab.
Ternyata ada pula seorang sahabat yang sempat tertinggal, bernama Abu Khaitsamah. Namun akhirnya iapun menyusul Rasulullah saw di Tabuk.
Jamuan istimewa dari Para Isteri Tercinta
Thabrani, Ibnu Ishaq dan al-Wakidi meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah saw berjalan beberapa hari menuju Tabuk, Abu Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang sangat panas sekali. Ia disambut oleh kedua istrinya di dua kemah yang terletak di tengah kebun. Masing–masing telah menyiapkan kemahnya dengan nyaman, lengkap dengan air sejuk dan makanan beraneka macam. Ketika masuk di pintu kemah dia melihat kedua istrinya dan apa yang telah mereka persiapkan.
Tertegun Abu Khaitsamah menyaksikan itu semua. Jamuan yang sangat istimewa, dari isteri-isteri tercinta. Udara yang panas, rasa lelah yang mendera, dijamu dengan minuman dingin, serta makanan yang lezat, ditemani dua isteri di dua kemah yang berbeda. Hatinya justru gundah, maka segera ia berkata :
”Rasulullah saw berjemur di terik matahari dan diterpa angin panas sedangkan Abu Khaitsamah bersantai di kemah yang sejuk, menikmati makanan yang tersedia dan bersenang ria dengan isteri-isteri cantik? Demi Allah, ini tidak adil !”
Dengan tegas Abu Khaitsamah berkata, ”Demi Allah, aku tidak akan masuk kemah salah seorang diantara kalian hingga aku menyusul Rasulullah saw!”
Melihat sikap suami yang tegas itu, segera kedua istrinya mempersiapkan perbekalan untuk berangkat. Setelah perbekalan siap, ia bergegas berangkat menuju Tabuk. Hatinya merasa tidak nyaman, ia harus segera bertemu Rasulullah saw dan para sahabat yang tengah berjuang di Tabuk.
Tetaplah Berangkat, Walau Terlambat
Di Tabuk, para sahabat melihat dari kejauhan ada seseorang yang mengendarai kuda mendekati mereka. Para sahabat berkata, ”Ada seorang pengendara yang datang.” Rasulullah saw bersabda, ”Ia adalah Abu Khaitsamah!”
Setelah semakin dekat, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullah, ia memang Abu Khaitsamah.”
Tetaplah berangkat menunaikan amanah, tetaplah berangkat melaksanakan kewajiban, betapapun kelelahan mendera tubuhmu. Betapapun keluarga yang sangat engkau cintai membuat hatimu tertambat dan ingin tidak berangkat. Singkirkan kemanjaan, buang kemalasan, ambil ketegasan sikap, dakwah harus dimenangkan.
Kehangatan keluarga jangan sampai membuatmu malas menunaikan amanah dakwah. Kenyamanan bersama isteri, suami dan anak-anak, jangan sampai membuat engkau tidak berangkat melaksanakan panggilan perjuangan. Ayo bergerak, walau engkau sudah terlambat. Ayo tetap berangkat, walau saudara-saudaramu para aktivis telah terlebih dulu berada di medan perjuangan dakwah.
Mungkin engkau terlambat, mungkin engkau sempat terlena, mungkin engkau sempat khilaf, mungkin engkau sempat manja, mungkin engkau sempat malas, mungkin engkau sempat merasa berat. Isteri cantikmu, anak-anak kecilmu, rumah bagusmu, mobil indahmu, semua menunggu ingin bersama denganmu.
Namun lihat di sana, para aktivis tengah sibuk memasang bendera. Para aktivis tengah lelah melaksanakan jutaan agenda. Para aktivis tengah berjaga-jaga agar tidak dicurangi oleh para durjana. Pagi, siang, sore dan malam, aktivitas mereka tiada henti. Memenangkan dakwah di medan-medan perjuangan yang sulit dan memerlukan banyak tenaga serta sarana. Segera datang, segera bergabung bersama mereka.
Friday, January 24, 2014
[Video] Kisah Inspiratif Yang Dapat Membuat Anda Menangis
Jendela Keluarga: Berikut adalah Sebuah Kisah inspiratif yang dapat membuat kita semua yang menontonnya menangis. Video ini mengisahkan seorang pedagang kecil yang selalu bersedekah. Dang sungguh keajaiban dan pertolongan dari Allah SWT selalu datang kepada orang-orang senantiasa menebar kebaikan termasuk bersedekah.
Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).














