Selamat Datang di Web Jendela Keluarga Aris Nurkholis - Ratih Kusuma Wardani

Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami

Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.

Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Cinta Tanpa Syarat

Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Cinta Tidak Harus Dengan Kata

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.

Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta

Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.

Friday, January 31, 2014

Keluarga Da'wah Keluarga Barokah

Jendela Keluarga: Keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah meridhai mereka semua, adalah contoh keluarga dakwah dan jihad. Seluruh anggota keluarga itu, termasuk pembantu rumah tangga (khadim) terlibar dalam kegiatan dakwah dan proyek jihad. Itu tampak jelas pada peristiwa besar hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bertugas menyertai Rasulullah saw dalam perjalanan. Abdullah putera Abu Bakar bertugas sebagai mediator informasi yang berkembang di kalangan orang-orang Quraisy untuk disampaikan kepada Rasulullah saw dan ayahnya yang bersembunyi di Goa Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Tugas itu dibantu oleh Asma Binti Abu Bakar, yang saat itu tengah hamil tua. Perempuan mulia ini juga mempunyai tugas lain yakni menyuplai makanan. Untuk menghapus jejak-jejak kaki itu maka Amir bin Fuhairah, khadim Abu Bakar yang ditugasi menanganinya. Ia setiap hari mengembalakan kambing-kambing ke arah goa tempat keduanya bersembunyi.

Meskipun sosok isteri Abu Bakar tidak tampil dalam kisah ini, namun dapat dipastikan keluarga dengan kualitas seperti itu merupakan produk kerjasama yang baik antara suami dan isteri.

Ini potret dari sebuah keluarga Muslim. Tidak seorang pun dari anggotanya yang berpangku tangan dari dakwah dan harokah (pergerakan). Semuanya memberikan kontribusi untuk dakwah dengan kemampuan yang dimilikinya. Insya Allah keluarga seperti itu akan mendapatkan barokah. Barokah adalah kebaikan yang tiada putus-putusnya. Namun, barokah ukurannya bukanlah materi. Barokah jauh lebih tinggi dari kenikmatan materi. Barokah membuat orang dapat mencapai kebahagiaan hakiki.

Betapa tidak, dakwah adalah sumber segala kebaikan. Karena dakwah mempunyai kekuatan untuk:

1. Menambah Jumlah Orang yang Beriman dan Bertaqwa

Iman dan taqwa adalah kunci bagi turunnya barokah dari Allah swt. Namun bukan iman dan taqwa yang dinikmati secara individual yang dapat menjamin turunnya barokah dari Allah. Melainkan iman dan taqwa yang menjadi perilaku manusia secara massal. Perhatikan firman Allah swt:

Seandainya para penduduk negeri-negeri ini beriman dan taqwa niscaya Kami bukakan bagi mereka barokah-barokah dari langit dan bumi. (Al A’raf:96)

2. Mendatangkan Rahmat Allah

Esensi dakwah adalah menyeru manusi kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan perbuatan itu akan mendatangkan rahmat dari Allah. Firmannya:

Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah:71)

Dengan rahmat Allah itulah manusia berkasih sayang. Dan dengan kasih sayang itulah hubungan antar personal akan menjadi sangat indah dan membahagiakan.

2. Mendatangkan Pahala yang Besar

Dakwah diperintahkan oleh Allah swt langsung firman-Nya: Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijak dan nasihat yang baik. (An Nahl:125)

Jika dakwah adalah perintah Allah, maka berarti hukumnya wajib. Dan melaksanakan kewajiban tentu saja mendatangkan pahala. Dan sebaliknya, meninggalkannya adalah dosa besar. Tentang agungnya pahala berdakwah, Rasulullah saw bersabda, Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui (usaha dakwah) kamu, maka (pahalanya) bagimu lebih baik dari dunia dengan segala isinya.

4. Menjauhkan Pelakunya dari Malapetaka di Dunia

Allah swt berfiman: Dan tidaklah Tuhan kamu akan membinasakan satu negeri padahal para penduduknya melakukan perbaikan. (Hud: 117)

Ayat itu mengisyaratkan secara tegas bahwa sekedar kesalihan segelintir orang yang ada pada suatu negeri tidaklah cukup untuk mencegah bencana dari Allah. Baru negeri itu akan terhindar dari kehancuran apabila penduduknya itu muslikhun (melakukan perbaikan dan pensalihan). Dan dakwah adalah upaya utama untuk itu. Itulah di antara bentuk-bentuk barokah yang dijanjikan Allah bagi orang yang melakukan dakwah.

Tapi, tersisa sebuah pertanyaan yang bernada mengkonfrontir antara idealita di atas dengan realitas. Realitasnya begini: nyatanya tidak sedikit keluarga yang aktif dakwah dan harokah tidak mencerminkan keluarga barokah. Fenomenanya misalnya, keharmonisan keluarga tidak tampak, rahmatan lil alamin-nya Islam tidak tercermin dalam kehidupannya: anak-anak pada keluarga tersebut justru menjadi gambaran kehidupan yang tidak berdisplin dan tidak mengenal tatakrama; rumahnya berantakan sepeti kapal pecah, dan seterusnya. Bagaimana itu bisa terjadi?

Fenomena yang dikeluhkan, seperti yang disebutkan di atas itu adalah merupakan elses dan pensikapan yang tidak benar terhadap dakwah. Lalu bagaimana pensikapan yang benar agar dakwah itu benar-benar menjadi barokah?

Pertama, ikhlas. Setiap anggota keluarga harus ikhlas menjalani kehidupan di belantara dakwah. Suami menjalankan dakwah semata-mata dengan tujuan mencari ridha Allah dan dengan cita-cita menegakkan kalimatullah, isteri dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah pun melepas kepergian suami atau ayah dengan penuh keikhlasan. Mereka mendukung sepenuhnya kiprah sang ayah dengan tujuan memberikan kontribusi bagi eksesnya Islam dalam kehidupan manusia.

Kedua, sabar. Terjun ke kancah dakwah mengandung resiko dan konsekuensi. Di antara resiko itu adalah berkurangnya hal-hal yang disenangi; peluang memperoleh materi, materi, waktu pertemuan dengan keluarga, waktu untuk rekreasi. Bahkan lebih berat daripada itu ada resiko berhadapan dengan tiran dan penguasa zalim.

Ketiga, saling memahami (tafahum). Untuk menumbuhkan keikhlasan dan mewujudkan
kesabaran perlu dibangun tafahum. Setiap kesabaran perlu dibangun tafahum. Setiap anggota keluarga saling memahami mengapa harus berdakwah, apa tujuan dakwah, dan bagaimana keutamaan dakwah, ada resiko dan konsekuensi dakwah. Logis bila muncul masalah seperti disharmoni antara suami dan isteri atau orang tua dengan anak-anak manakala seorang dai asyik dan menikmati sendiri dunia dakwah. Tanpa adanya tafahum keasyikan itu akan ditafsirkan sebagai sikap abai dan tidak peduli dengan nasib keluarga. Tanpa pemahaman yang sama, alih-alih mendukung, anggota keluarga bahkan bisa menjadi musuh dai dan musuh dakwah itu sendiri.

Keempat, menjaga keseimbangan (tawazun). Tentu saja tafahum bukanlah satu-satunya andalan untuk mensukseskan cita-cita keluarga harokah agar menjadi keluarga barokah. Tafahum harus ditindaklanjuti dengan keseimbangan dalam merespon kebutuhan-kebutuhan riil lapangan. Yang butuh dakwah bukan hanya masyarakat melainkan juga keluarga, anak, istri, orang tua, istri, ayah, ibu, adik, kakak, dan seterusnya. Sulit dimengerti dengan logika dakwah bila sepasang suami istro yang sibuk di luar rumah dengan dalih dakwah (sama tidak
logisnya bila alasannya sekedar mencari maisyah atau meniti karir) sementara  anak-anak sendiri sepenuhnya diserahkan kepada orang lain yang bernama khadimah (dengan tidak mengurangi penghargaan kepada khadimah dan profesinya serti tidak menafikan adanya khadimah yang andal dalam hal ini).

Selain kebutuhan dakwah itu, keluarga pun mempunyai kebutuhan fisik dan material. Zuhud tidaklah identik dengan kepapaan. Keluarga dakwah yang ideal adalah keluarga yang tidak membuat orang yang melihatnya iba dan merasa perlu mengasihani. Dan masalah ini juga perlu mendapat sentuhan memadai dari sang da’i terlepas dari kenyataan bahwa sebagian aktifitas dakwah juga bisa menjadi peluang bagi datangnya rizki Allah swt.

Kelima, saling bantu (taawun). Tangung jawab keluarga dakwah dan harokah memang jauh lebih kompleks dari keluarga biasa. Sukses membangun keluarga adalah taruhan bagi sukses membangun masyarakat. Maka tentu saja tanggung jawab bukan hanya terletak pada sang kepala keluarga melainkan terdistribusi kepada seluruh anggota keluarga itu dengan peran yang berbeda-beda. Dengan cara ini maka tidak akan terjadi suami terhadap istrinya, istri terhadap suaminya, atau orang tua terhadap anak-anaknya merasa paling berjasa dari yang lainnya, sebab setiap anggota keluarga telah menjalankan perannya masing-masing.

Wallahu a’lambishshowab.

Sumber: Majalah Saksi No.23/Th.III, 21 Agustus 2001

Keluarga Dakwah, Harokah dan Barokah. yuk kita berusaha mewujudkannya

Thursday, January 30, 2014

Makna (Cinta) Keluarga Dalam Setiap Jiwa Penghuninya


Jendela Keluarga: Bukan cinta yang menjadi sebab mereka  berlayar | tapi justru berlayarlah yang membuat mereka semakin cinta | untuk cintamu pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu, pada umat manusia pada orang tuamu, pada adik-kakakmu, pada suami-istrimu, pada anakmu, pada masa depanmu | jika cinta berbuatlah | ukuran termudah dan logis  tentang cinta adalah amal | yaitu tentang pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan untuk cinta-cinta kita | mudah melihat bukti cinta seorang ibu dengan melihat kerasnya  dia mengurus anak dari mata terbuka hingga mata terpejam | cinta itu tindakan | itu yang membuat cinta logis dan terukur | semakin banyak yang kita lakukan, semakin banyak cinta yang kita miliki | semakin besar hal yang kita perbuat, semakin besar pula gambaran keagungan cinta kita | maka jika cinta berbuatlah | cinta adalah kebaikan | diksi kata cinta adalah baik dan positif | lawannya benci | deskripsi kata cinta adalah pemimpin agung yang adil | bukan perompak kejam yang pembius | cinta juga dideskripsikan sebagai  ibu baik hati yang cantik, bukan nenek sihir jahat bersuara parau | sederhananya cinta adalah gambaran penuh kebaikan | cukup dengannya mampu memperbaiki segalanya | maka cinta membuat pelakunya akan semakin membaik, atau memantaskan diri menjadi lebih baik | para pecinta sadar, pencarian sejati manusia adalah pencarian tentang kebaikan | tak peduli siapapun kita, karenanya juga para pecinta tau, sewaktu mereka memutuskan untuk mencintai | mereka akan dinanti kebaikannya oleh  sang cinta itu fitrahnya | muara cinta dari sepasang manusia | adalah pernikahan | maka di sanalah muara kebaikan dari setiap lelaki, dan perempuan tersalur | ini beratnya, karna kebaikan tidak berteman lama dengan kepura-puraan | tampak baik cukup  untuk memikat semua perempuan atau laki-laki | tapi belum tentu cukup untuk merawat kesetiaan | betapa banyak hubungan pernikahan kandas | hanya karena alasan, ia tak sebaik kelihatannya | berbuat baik adalah perintah setelah ruku’ dan sujud, seperti halnya ruku’ dan sujud | berbuat baik tidak bisa pura-pura | ada keikhlasan di sana | hanya untuk Allah dan berharap balas hanya dari Allah | di sini tidak ada ruang untuk, kepura-puraan | karna Allah Maha Tau Segalanya | “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.

(dinukil dari seorang motivator Ridwan Kamil)

Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku. Jargon yang biasa terdendang di setiap jiwa-jiwa penghuninya. Entah itu berupa kiasan atau benar adanya. Tak hanya semata-mata bermakna rumahku surgaku. Karena kata itu begitu melangit adanya, jika tidak setara dengan jiwa penghuninya. Mungkin kalian akan berpikir sejenak dan sependapat mengatakan, ya.

Hai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Jika cinta maka bertindaklah dengan kebaikan. Seperti halnya sepenggal surah tersebut, tak sekadar memotivasi. Bahwa cinta adalah tindakan, terhadap keluarga pun demikian. Keluarga adalah keutuhan cinta dalam bahtera rumah tangga, berlayar di samudera kehidupan dan bermuara di pelabuhan akhirat nantinya. Di dalamnya berisikan sebuah pembelajaran kehidupan untuk bekal akhirat terhadap setiap penghuninya. Jika kita semakin cinta maka kita akan bertindak lebih baik untuk keluarga, entah pada suami yang berjuang dalam peluhnya terik matahari, istri yang selalu mendampingi, anak-anak yang menghibur hati dan keluarga besar yang selalu ada untuk menyemangati. Karna cinta menjadi memotivasi manusia terbesar dalam hal apapun.

Seperti halnya cinta kita pada Sang Pencipta, cinta di atas segalanya. Jika cinta bertindaklah, menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk bisa bertemu dengan Sang Maha Cinta. Sungguh indah. Membayangkannya pun merasakan nuansa yang begitu syahdu. Ketika cinta pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu dan Keluargamu, menjadikan sebab kita cinta.  Aaahhhh!!! Itu ada tiap impian individu manusia, fitrahnya. Dan kitapun dapat menggambarkan bagaimana surganya rumah kita di dunia dengan melihat isian dari karakter yang menjadikan lahirnya pribadi-pribadi dari setiap jiwa penghuninya. Cukup kita menengok diri kita saat ini, yup! Sejauh mana makna cinta keluarga itu?

Jika cinta maka bertindaklah, saling mengingatkan adalah bentuk cinta. Itu sebabnya saya ingin berbagi cinta dengan kalian. Bersyukur bila mengena di hati. Itu tandanya ada yang perlu diperbaiki dalam diri. Karna sejatinya manusia adalah berproses dan bertindak untuk lebih baik. Ingat proses saat kita tercipta, terlahir, tumbuh dewasa, sekolah, berkeluarga dan kematian pada awal kehidupan selanjutnya. Yup!!! Berproses menuju kebaikan. “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.” Sudah diserukan sejak manusia tercipta dan tertulis dalam lauhul mahfuz. Untuk manusia-manusia pilihan yang beriman. Jika cinta maka bertindaklah.

Wednesday, January 29, 2014

Menyingkirkan Sombong Dan Riya’ Dari Hati Kita


Saudaraku,

Yunus bin Ubaid rahimahullah pernah bertutur:
“Umat ini tidak akan pernah terkena riya’ murni ataupun sombong yang utuh.”
Ia ditanya, “Kenapa bisa demikian?.”
Ia menjawab, “Tiada kesombongan total dengan bersujud. Dan tiada pamer murni jika hati diwarnai tauhid.”

Saudaraku,

Jika kita ingin mengikis habis kesombongan yang bersemayam di dalam kalbu kita, maka jalan yang kita tempuh adalah banyak bersujud kepada Allah Ta’ala. Itu artinya semakin banyak kita sujud dan tunduk di hadapan-Nya, maka kesombongan kita semakin menyingkir dari hati kita.

Sujud menyimbolkan ketundukan hati, pikiran, anggota tubuh kita kepada Zat yang mahakuat, mahaperkasa dan mahamengayomi.

Sujud juga merupakan indikasi kuatnya ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Semakin kita memperbanyak sujud, maka puncak ubudiyah semakin dekat.

Saudaraku,

Orang yang pamer dalam amalannya, pertanda nilai dan bobot tauhid dalam hatinya sangat lemah. Bahkan pohon tauhid dalam dirinya telah terancam punah.

Menyuburkan pohon tauhid tentunya dengan menyiraminya dengan hujan iman. Sementara tanaman iman akan lesu dan bahkan kering, jika hama riya’ dan wereng sum’ah, mengganggu pertumbuhannya.

Saudaraku,

Mari kita singkirkan riya dan sombong dari tubuh kita, dengan melestarikan tauhid dalam hati kita dan memperbanyak sujud dan menghiba di hadapan-Nya. Semoga.

Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc.

Tuesday, January 28, 2014

Dimanakah Posisi Kita?






Saudaraku,

Saat kita merasakan lelah dalam mengarungi kehidupan
Saat kita rasakan hambar di majlis ilmu
Saat semangat kita redup untuk menambah ilmu pengetahuan
Saat kita resah berada di sekitar ahli ilmu
Saat kita tak bergairah untuk menularkan ilmu kepada orang lain
Saat kita malas untuk mengulang-ulang hafalan yang telah ada
Saat Allah terasa jauh dari kehidupan kita
Saat debu-debu syirik menempel di rumah-rumah kita
Saat lidah terasa kelu untuk berzikir dan memuji-Nya
Saat sinar petunjuknya tak menyinari kalbu kita
Saat kita futur dan lemah dalam mendaki puncak ubudiyah
Saat kita selalu sibuk dengan urusan dunia, karir dan pekerjaan kita
Saat akherat menjauh dan bahkan kita lupakan

Saudaraku,

Mungkin sudah saatnya kita mengenang kembali nasihat Ibnul Qayyim, agar kita mengevaluasi bekal kita menuju Allah. Bekal ilmu pengetahuan.

Ibnul Qayyim berkata,
“Dengan ilmu kita mengenal Allah dan mengabdi kepada-Nya.
Dengannya kita mengingat dan mentauhidkan-Nya.
Dengannya kita senantiasa memuji dan mengagungkan-Nya.
Dengannya para pendaki puncak ubudiyah selalu dalam petunjuk-Nya.
Di atas jalan ilmu, orang yang kembali akan sampai kepada-Nya.
Dari pintu ilmu, hamba-hamba-Nya masuk ke surga-Nya.
Mengulang-ulang ilmu yang pernah dikecap merupakan tasbih
Mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad
Mencarinya adalah taqarrub kepada Allah
Menularkannya adalah sedekah
Mengkaji dan mengajarkannya setara dengan shiyam dan shalat malam
Kebutuhan manusia terhadapnya melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman.
(Madarijul salikin, Ibnul Qayyim).

Saudaraku,

Mari kita instrospeksi diri. Sudahkah kita layak menjadi bagian dari ahli ilmu? Penuntut ilmu? Yang mengajarkan ilmu? Atau seperti apa diri kita sekarang ini? Jawablah dengan kejujuran hati nurani. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc. (manhajuna.com)

Monday, January 27, 2014

Keluarga Dakwah, Basis Kekuatan Umat



Jendela Keluarga: Medan pertarungan utama antara Islam dengan jahiliyah adalah pertarungan sosial, antara tatanan masyarakat Islam dengan tatanan sosial jahiliyah. Kedua fenomena ini bertolak belakang, yang satu dibangun di atas landasan Aqidah Islamiyah, Syariat Islam dan akhlaqul karimah, sementara yang lain dibangun di atas pondasi cinta dunia dan hamba nafsu.

Pertarungan ini berlangsung semenjak masyarakat Islam masih lemah di tengah hegemoni masyarakat jahiliyah, maupun setelah masyarakat Islam menjadi pemenang dan mendominasi. Maknanya, masyarakat Islam tak pernah kehilangan kekhasan ini, meski sedang sulit atau dikuasai musuh.

Keluarga memiliki peran kunci dalam membangun tatanan masyarakat Islami. Satuan sosial terkecil yang membentuk masyarakat adalah keluarga. Oleh karenanya, keluarga harus menjadi fokus garapan untuk menjadi bahan baku membentuk masyarakat Islami. Masyarakat yang menyadari perannya sebagai barisan pasukan yang berhadap-hadapan dengan barisan prajurit sosial jahiliyah.

Ada Perintah di balik Keluarga

Allah swt berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjelaskan sunnatullah bahwa seorang pria ditaqdirkan Allah memerlukan wanita sebagai pasangan hidup agar si pria terjinakkan nafsunya dengan pasangan halal tersebut. Selain itu juga naluri cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) bisa disalurkan dengan panduan syariat Allah. Kenyataan yang tak bisa ditolak manusia ini merupakan salah satu “ayat-ayat kauniyah” (tanda-tanda kekuasaan Allah), sama dengan tanda kekuasaan yang lain seperti hukum alam tentang peredaran siang malam, matahari bulan, kehidupan kematian, dan sebagainya.

Padahal kita tahu, di balik tanda-tanda kekuasaan Allah, ada perintah syariat yang menyertainya. Di balik peredaran siang malam, ada perintah sholat lima waktu. Di balik fenomena fajar, ada perintah sholat Shubuh. Di balik fenomena tengglamnya matahari, terdapat perintah sholat Maghrib. Demikian halnya, hubungan menyatu antara pria dan wanita karena terpuaskannya syahwat, terjalinnya cinta dan terpeliharanya kasih sayang, harus dijadikan tanda untuk sebuah perintah di baliknya.

Jika keluarga yang dibangun seorang muslim hanya dalam rangka menghasilkan sakinah, mawaddah wa rahmah, maka keluarga tersebut baru melaksanakan kehendak kauniyah (hukum alam) Allah. Adapun kehendak syar’iyyah (hukum kalam) Allah belum dilaksanakan. Jika demikian, tujuan pernikahan menjadi sangat simpel, sekedar menghalalkan saluran syahwat, hubungan cinta dan kasih sayang antara dua orang manusia yang boleh jadi sudah terjalin lama sebelum menikah melalui pacaran.

Keluarga Jahiliyah

Keluarga yang dibangun melalui ikatan pernikahan dalam konsepsi Jahiliyah sangat sederhana. Pernikahan hanya sebuah momentum pengumuman kepada khalayak bahwa kedua manusia tersebut saling memiliki. Pria memiliki wanita dan wanita memiliki pria. Bahkan di Barat pengumuman kepemilikan ini diperluas, menjadi pria boleh memiliki pria dan wanita boleh memiliki wanita. Mengapa ? Karena dalam konsepsi Jahiliyah, cinta adalah segalanya. Bila seorang pria mencintai pria yang lain, ia berhak melegalkannya dan mengumumkannya dalam ikatan pernikahan, untuk mendapatkan sakinah wawaddah wa rahmah.
Kepemilikan yang dimaksud dalam pernikahan Jahiliyah hanya kepemilikan untuk menyalurkan syahwat. Adapun aurat, itu bukan termasuk kepemilikan, oleh karenanya boleh laki-laki bukan suaminya untuk melihat aurat. Bahkan, semakin keseksian dan aurat istrinya dikagumi banyak mata, sang suami makin bangga. Alam pikiran Jahiliyah yang sudah menular sebagiannya kepada umat Islam.

Dalam mengelola aset keluarga berupa anak-anak, keluarga Jahiliyah juga tak memiliki konsep yang jelas. Dengan aqidah Liberalisme dan Pluralisme, anak-anak dibebaskan memilih kesukaannya, tak ada konsep benar dan salah. Semua baik bagi anak-anak sepanjang membuat masa depan mereka cerah dalam percaturan dunia.

Bila kita sepakat dengan ciri-ciri keluarga Jahiliyah tersebut, maka kita berhak miris. Kaum muda Umat Islam makin banyak yang tak lagi peduli dengan tujuan mulia dibangunnya keluarga. Pernikahan hanya menjadi upacara hambar di ujung sebuah jalan panjang bernama pacaran bahkan “kecelakaan”.

Keluarga Dakwah, Bukan Hanya Keluarga Samara

Pernikahan untuk membangun keluarga adalah sebuah tanda alam, sunnatullah kauniyah, seperti tanda alam lain. Pernikahan – baik dilakukan muslim maupun kafir – bertujuan melanggengkan sakinah, mawaddah dan rahmah (samara). Fakta membuktikan, banyak pasangan non muslim yang pernikahannya harmonis hingga puluhan tahun, saling cinta, setia dan kasih sayang sampai ajal. Artinya, samara bukan monopoli muslim, karena memang hanya sebuah tanda kekuasaan Allah yang terjadi secara umum.

Jadi yang khas pada pernikahan muslim bukan pada samara-nya, tapi pada perintah syariat di balik samara tersebut, apa peran keluarga muslim dalam ikut mendakwahkan dan membela Islam. Ada banyak syariat yang mutlak membutuhkan keluarga samara dalam pelaksanaannya. Ada dakwah, amar makruf nahi munkar, sedekah, pendidikan Islam, bahkan jihad fi sabilillah. Syekh Rifai Surur meringkasnya dengan istilah Keluarga Dakwah, keluarga yang tercelup dengan nafas dakwah dan bergerak dengan spirit dakwah.

Bahkan, dinamika dan lika-liku perjalanan dakwah yang diemban keluarga, bisa menjadi batu ujian yang sangat ideal untuk cinta dan kesetiaan pasangan. Demikian pula sebaliknya, di tengah dinamika cinta dan kesetian keluarga, bisa dilakukan ibadah dan pengabdian kepada Allah. Di tangan keluarga dakwah, resiko dakwah justru menguatkan samara dan sebaliknya samara  menjadi media melaksanakan dakwah.

Nabi Ibrahim as setelah menikah dengan Hajar dan dikaruniai anak, Sarah cemburu dengan meminta Ibrahim as menyingkirkan jauh-jauh Hajar dari pandangannya. Ini adalah dinamika samara dalam keluarga. Tapi uniknya, sambil memberi solusi atas dinamika keluarga ini, Ibrahim as diperintahkan oleh Allah untuk menempatkan Hajar dan putranya di Mekah, lembah kering di tengah padang pasir jauh dari kediaman Sarah. Satu pekerjaan untuk dua tujuan; solusi masalah rumah tangga, sekaligus pelaksanaan perintah Allah. Indah sekali !

Dari kisah ini dapat ditarik pelajaran: laksanakan dakwah, niscaya Allah akan berikan solusi masalah rumah tangga kita, seperti Allah memberi solusi masalah rumah tangga Ibrahim ! Sebaliknya, abaikan dakwah, niscaya kita hanya akan disibukkan dengan urusan rumah tangga karena tak ada “jalan keluar langit’ yang tersedia. wallahu a’lam bis-showaab.

by elhakimi  (elhakimi.wordpress.com)

Sunday, January 26, 2014

Kehangatan Rumah Jangan Melenakanmu Dari Perjuangan




Jendela Keluarga: Mengurus keluarga itu sangat penting. Membahagiakan keluarga, adalah bagian dari kewajiban. Namun tidak boleh terlena oleh kehangatan keluarga, yang menyebabkan kita melalaikan kewajiban dakwah dan tidak menunaikan amanah. Semua amanah harus ditunaikan dengan sepenuh tanggung jawab.

Pada saat Perang Tabuk, Rasulullah saw keluar bersama sekitar 30.000 pasukan. Di antara sahabat Nabi, ada beberapa orang yang tidak ikut berangkat ke Tabuk, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Mereka ini –seperti dikatakan oleh Ibnu Ishaq dalam kitab Sirahnya— adalah orang–orang jujur yang tidak diragukan lagi kebaikan mereka.

Ternyata ada pula seorang sahabat yang sempat tertinggal, bernama Abu Khaitsamah. Namun akhirnya iapun menyusul Rasulullah saw di Tabuk.

Jamuan istimewa dari Para Isteri Tercinta

Thabrani, Ibnu Ishaq dan al-Wakidi meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah saw berjalan beberapa hari menuju Tabuk, Abu Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang sangat panas sekali. Ia disambut oleh kedua istrinya di dua kemah yang terletak di tengah kebun. Masing–masing telah menyiapkan kemahnya dengan nyaman, lengkap dengan air sejuk dan makanan beraneka macam. Ketika masuk di pintu kemah dia melihat kedua istrinya dan apa yang telah mereka persiapkan.

Tertegun Abu Khaitsamah menyaksikan itu semua. Jamuan yang sangat istimewa, dari isteri-isteri tercinta. Udara yang panas, rasa lelah yang mendera, dijamu dengan minuman dingin, serta makanan yang lezat, ditemani dua isteri di dua kemah yang berbeda. Hatinya justru gundah, maka segera ia berkata :

”Rasulullah saw berjemur di terik matahari dan diterpa angin panas sedangkan Abu Khaitsamah bersantai di kemah yang sejuk, menikmati makanan yang tersedia dan bersenang ria dengan isteri-isteri cantik? Demi Allah, ini tidak adil !”

Dengan tegas Abu Khaitsamah berkata, ”Demi Allah, aku tidak akan masuk kemah salah seorang diantara kalian hingga aku menyusul Rasulullah saw!

Melihat sikap suami yang tegas itu, segera kedua istrinya mempersiapkan perbekalan untuk berangkat. Setelah perbekalan siap, ia bergegas berangkat menuju Tabuk. Hatinya merasa tidak nyaman, ia harus segera bertemu Rasulullah saw dan para sahabat yang tengah berjuang di Tabuk.

Tetaplah Berangkat, Walau Terlambat

Di Tabuk, para sahabat melihat dari kejauhan ada seseorang yang mengendarai kuda mendekati mereka. Para sahabat berkata, ”Ada seorang pengendara yang datang.” Rasulullah saw bersabda, ”Ia adalah Abu Khaitsamah!”

Setelah semakin dekat, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullah, ia memang Abu Khaitsamah.”
Turun dari kudanya, Abu Khaitsamah bergegas menghadap Rasulullah saw. Sabda beliau saw kepadanya, ”Engkau mendapatkan keutamaan wahai Abu Khaitsamah!”
Abu Khaitsamah kemudian menceritakan kisahnya, dan Rasulullah saw berdoa untuk kebaikannya.

Tetaplah berangkat menunaikan amanah, tetaplah berangkat melaksanakan kewajiban, betapapun kelelahan mendera tubuhmu. Betapapun keluarga yang sangat engkau cintai membuat hatimu tertambat dan ingin tidak berangkat. Singkirkan kemanjaan, buang kemalasan, ambil ketegasan sikap, dakwah harus dimenangkan.

Kehangatan keluarga jangan sampai membuatmu malas menunaikan amanah dakwah. Kenyamanan bersama isteri, suami dan anak-anak, jangan sampai membuat engkau tidak berangkat melaksanakan panggilan perjuangan. Ayo bergerak, walau engkau sudah terlambat. Ayo tetap berangkat, walau saudara-saudaramu para aktivis telah terlebih dulu berada di medan perjuangan dakwah.

Mungkin engkau terlambat, mungkin engkau sempat terlena, mungkin engkau sempat khilaf, mungkin engkau sempat manja, mungkin engkau sempat malas, mungkin engkau sempat merasa berat. Isteri cantikmu, anak-anak kecilmu, rumah bagusmu, mobil indahmu, semua menunggu ingin bersama denganmu.

Namun lihat di sana, para aktivis tengah sibuk memasang bendera. Para aktivis tengah lelah melaksanakan jutaan agenda. Para aktivis tengah berjaga-jaga agar tidak dicurangi oleh para durjana. Pagi, siang, sore dan malam, aktivitas mereka tiada henti. Memenangkan dakwah di medan-medan perjuangan yang sulit dan memerlukan banyak tenaga serta sarana. Segera datang, segera bergabung bersama mereka.
By. Ustd. Cahyadi Takariawan

Friday, January 24, 2014

[Video] Kisah Inspiratif Yang Dapat Membuat Anda Menangis





Jendela Keluarga: Berikut adalah Sebuah Kisah inspiratif yang dapat membuat kita semua yang menontonnya menangis. Video ini mengisahkan seorang pedagang kecil yang selalu bersedekah. Dang sungguh keajaiban dan pertolongan dari Allah SWT selalu datang kepada orang-orang senantiasa menebar kebaikan termasuk bersedekah.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).