Selamat Datang di Web Jendela Keluarga Aris Nurkholis - Ratih Kusuma Wardani

Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami

Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.

Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Cinta Tanpa Syarat

Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Cinta Tidak Harus Dengan Kata

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.

Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta

Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.

Wednesday, February 5, 2014

Kunci Rumah Tangga Harmonis

 


Jendela Keluarga – Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.

Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.

Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!

Monday, February 3, 2014

Sukses Tidak Mengenal Usia


Jendela Keluarga: Berapa usia anda sekarang ? Bisa saya pastikan belum ada yang mencapai delapan puluh tahun saat membaca tulisan saya ini. Apakah anda telah menjadi orang yang sukses pada usia anda sekarang ? Jika anda merasa belum sukses, jangan khawatir dan jangan pernah berputus asa. Ternyata sukses bukan masalah usia. Dia bisa datang pada usia muda atau usia tua.

Jangan mengira sukses itu adalah sebuah hasil, karena sesungguhnya sukses itu adalah tentang bagaimana kita berusaha dan terus berusaha melakukan hal terbaik. Zig Ziglar memaknai sukses sebagai berikut, 

Success means doing the best we can with what we have. Success is the doing, not the getting; in the trying, not the triumph. Success is a personal standard, reaching for the highest that is in us, becoming all that we can be.

Menurut Ziglar, sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, bukan mendapatkan; sukses adalah usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi yang ada di dalam diri kita, menjadi semua yang kita bisa.

Mari kita perhatikan, sangat banyak orang mencapai sukses ketika usia mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Walaupun semua orang menghendaki mendapatkan sukses sejak masih muda remaja, namun jangan pernah putus asa jika belum mendapatkannya. Karena sukses bisa menjadi milik kita kapan saja, pada usia berapa saja, tidak pernah terlambat untuk mendapatkannya.

Penulis Sukses di Usia 99

Toyo Shibata jelas tidak lagi muda. Pada usianya yang hampir 100 tahun, perempuan Jepang itu memunculkan buku kumpulan puisi, dan baru pertama kali itu pula ia menerbitkan buku. Tidak dinyana, buku berjudul Don Be Frustated tersebut laris manis. Tidak sampai satu tahun, telah menembus angka penjualan 1.500.000 eksemplar. Sangat fantastis. Sementara di Jepang, buku puisi disebut sukses jika sudah mencapai 10.000 eksemplar.

Buku perdana Toyo Shibata berhasil masuk The 10 Best Seller 2010 versi Touhan, penerbit buku terbesar di Jepang. Uniknya, ia baru mulai menulis saat berusia 92 tahun. Luar biasa, benar-benar nenek yang produktif. Usia tidak menghalanginya berkarya dan bekerja meraih sukses. Padahal kita lihat banyak orang tua di sekitar kita yang sudah tidak berpikir lagi untuk menghasilkan karya besar. Bahkan banyak juga anak muda yang tidak memiliki keinginan kuat untuk sukses dan memiliki karya monumental.

Toyo Shibata menjadi contoh bahwa kesuksesan bisa diraih pada usia berapapun. Ia menjadi ikon bahwa menulis bisa dilakukan kapan saja, pada usia berapa saja. Ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi gemilang. Benar-benar pesan yang kuat, bahwa tidak ada terlambat untuk meraih sukses dan terkenal. Kita semua belum pernah mendengar nama Toyo Shibata sebelum ini. Justru kita mengenal namanya saat ia berusia 99 tahun dan bersiap menyambut usia genap 100 tahun.

Menjadi Penyanyi Terkenal di Usia 60

Kita juga ingat musisi fenomenal Urip Ariyanto yang lebih terkenal dengan nama Mbah Surip. Lagu Tak Gendong melejitkan namanya, dan sempat menjadi berita yang menghangatkan dunia hiburan Indonesia. Ia lahir tahun 1949, setelah mengalami berbagai jenis pekerjaan, tahun 1979 mulai hijrah ke Jakarta. Mbah Surip sebenarnya sudah banyak melahirkan album, seperti Ijo Royo-royo (1997), Indonesia (1998), Reformasi (1998), "Tak Gendong" (2003) dan Barang Baru (2004). Album ini bukan dirilis perusahaan musik, tapi direkam dan diedarkan sendiri. Distribusinya bukan dari Disc Tara atau toko musik terkenal lain, tapi melalui warung dan toilet umum di seputar Blok M dan Ancol.

Baru pada April 2009, perusahaan rekaman Falcon memilih 10 lagu Mbah Surip, termasuk "Tak Gedong dan Bangun Tidur", lalu melemparnya ke pasar, dan ternyata langsung meledak. Usianya sudah 60 tahun saat menjadi populer dan sukses. Ia menjadi selebritis mendadak, diundang di berbagai kegiatan dan forum. Diwawancara berbagai stasiun televisi, radio,  majalah dan koran. Lagunya dinyanyikan sejak anak kecil sampai orang tua. Ucapan â€Å“I Love You Full” menjadi bahasa gaul yang ditirukan banyak kalangan.

Walaupun hanya sebentar menikmati masa sukses, namun ada pesan yang kuat tertangkap oleh kita, bahwa sukses tidak mengenal usia. Mbah Surip sudah tua saat terkenal. Ia tidak terkenal saat berusia 20 atau 30 tahun. Lagu Tak Gendong yang sudah dirilis pada tahun 2003, baru meledak setelah dirilis ulang pada tahun 2009. Konon, ia berhak mendapatkan royalti 4,5 Milyar Rupiah dari album Tak Gendong yang dirilis tahun 2009. Jelas uang yang tak pernah dibayangkan Mbah Surip sepanjang hidupnya. Ternyata sukses tidak mengenal usia.

Sanders Sukses di Usia 65

Kita juga mengenal Kolonel Harland Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken. Sanders lahir di tahun 1890. Ia telah melakukan banyak pekerjaan sebelum menjadi sukses dengan KFC-nya. Pernah menjadi tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, kemudian pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, pegawai asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel. Sanders sempat belajar ilmu hukum melalui korespondensi dan mempraktikkannya dalam dunia pengadilan. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai memasak untuk orang yang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin.

Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual. Inilah kegigihan Kolonel Sanders. Dia memulai suksesnya di usia 65 tahun, saat tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya sebagai pensiunan tentara.

Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008 menerima resepnya tersebut, dan kini Kentucky Fried Chicken telah tersebar di lebih dari 80 negara di dunia. Ya, tak ada kata terlambat untuk menjadi sukses dan terkenal. Di usia 66 tahun memulai usaha besar, dan ternyata Sanders mendapatkan tempat di dunia makanan. KFC menjadi cita rasa makanan orang di berbagai negara.

Walikota Sukses di Usia 89

Hazel McCallion adalah sosok perempuan yang sangat kuat. Pada usianya yang sudah lebih dari 90 tahun, ia masih mampu menjadi walikota Mississauga, Ontario, Kanada yang sukses. Ia selalu terpilih dalam pemilihan walikota sejak 1978. Sudah 33 tahun memimpin kota hingga sekarang, mampu mengubah Mississauga yang dulu kumuh, kini menjadi salah satu kota terindah di Kanada.

Masyarakat Mississauga selalu mendukung Hazel dalam setiap pemilihan walikota yang digelar secara langsung dan demokratis. Hazel selalu berhasil memenangkan para pesaing politiknya dalam ritual pemilihan umum, namun hal itu tidak membuatnya besar kepala dan sombong. Kekuasaan yang dimilikinya di Kota Mississauga, tidak mengantarkan ia menjadi seorang pemimpin yang glamour atau hedonis. Bahkan ia menampilkan jati dirinya sebagai seorang pemimpin yang sederhana dan bersahaja.

Hazel McCallion mulai karir politiknya di distrik Streetsville, berawal sebagai ketua Badan Perencanaan Streetsville pada tahun 1967. Ia terpilih sebagai walikota Streetsville pada tahun 1970, dan menjabat sampai tahun 1973. Ia mulai terpilih menjadi walikota Mississauga pada tahun 1978, ketika ia sudah berumur 67 tahun.

Karena popularitasnya, ia tidak memerlukan kampanye selama proses pemilihan umum walikota. Bukan hanya itu, ia bahkan menolak menerima donasi politik. Hazel tidak meminta pihak manapun untuk menyumbangkan dana bagi pemenangan dirinya dalam setiap pemilihan wakil kota. Ia memenangkan pemilihan walikota Mississauga 12 (dua belas) kali berturutan, hingga ia berhasil memenangkan pemilihan terakhir pada 25 Oktober 2010 kemarin, pada saat usianya sudah 89 tahun.

Wisuda Sarjana di Usia 99

Tidak pernah terlambat untuk menuntut ilmu dan menjadi sarjana. Ungkapan ini rupanya benar-benar diterapkan oleh seorang nenek berusia 94 tahun, Hazel Soares. Warga kota San Leandro, California, Amerika Serikat (AS) ini adalah satu dari sekitar 500 lulusan Mills College yang berhasil meraih gelar sarjana. Upacara kelulusan berlangsung pada Sabtu, 15 Mei 2010.

Perlu waktu lama (untuk lulus) karena saya sangat sibuk, kata Soares. Akhirnya saya berhasil mencapainya dan membuat saya merasa sangat puas, lanjut sarjana sejarah seni ini. Soares, ibu enam anak dan nenek dari 40 cucu dan cicit, berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Soares lahir di Richmond, California pada tahun 1915, ia mengatakan ingin kuliah setelah lulus dari sekolah menengah atas Roosevelt di Oakland pada 1932, saat sedang terjadi Depresi Besar. Kecuali kita dapat bantuan dana, sangat mustahil bisa kuliah, kata Soares. Tapi keinginan saya untuk kuliah tidak pernah lenyap, lanjutnya.

Satu lagi seorang nenek, Nola Ochs (OAKS) dari Kansas, menempati posisi sebagai orang tertua saat lulus dari Fort Hays State University tiga tahun lalu pada usia 95 tahun, menurut Guinness Book of World Records. Ochs, kini 98 tahun, baru-baru ini juga menerima gelar master di bidang studi liberal dari Fort Hays.

Dia kuliah satu kelas dengan cucunya yang berusia 21 tahun. Berjalan di kampus dengan rambut putih dan keriput,  Nola menjadi sangat populer di kampus. Teman kelas memberi dia kejutan ketika berultah yang ke 95. Selama kuliah dua semester, nenek Nola mendapat IPK 3,7 dan menyelesaikan lebih dari 100 paper dan esai. Profesornya memberi nila A plus terhadap salah satu paper Nola dan menjadikannya sebagai contoh bagaimana membuat paper yang baik.

Ada lagi yang lebih tua dari mereka berdua. Leo Plass, kakek berusia 99 tahun keluar dari perguruan tinggi selama masa Depresi Besar (Great Depression) tahun 1932 untuk bekerja, tapi kini meraih gelar sarjana. Leo Plass, pria asal Redmond, Oregon, Amerika Serikat itu berhasil meraih gelar sarjana dari Eastern Oregon University, La Grande, pada 11 Juni lalu dalam usia 99 tahun.

Ketika Eastern Oregon University, dulu bernama Eastern Oregon Normal School, memeriksa skripsi Leo, mereka baru menyadari bahwa berdasarkan ketentuan yang baru ternyata Plass memenuhi syarat untuk meraih gelar sarjana. Jadilah Leo diwisuda dan mungkin menjadi wisudawan tertua di dunia.

“Saya hanya butuh waktu 80 tahun untuk menyelesaikan kuliah,” kata Leo berkelakar kepada Reuters, Kamis (17/6). “Mereka membawa saya keliling kampus. Ya ampun, semuanya sudah berubah,” kata Leo saat wisuda. Leo Plass yang akan berusia 100 tahun pada 3 Agustus 2011 mengaku tidak memiliki keinginan atau rencana khusus untuk meniti karier lain dengan gelar barunya tersebut.

Lakukan Sesuatu, Jika Ingin Sukses

Bagi manusia yang religius, sukses adalah sebuah keinginan dan cita-cita terbesar dalam kehidupan. Kita ingin mendapatkan sukses di dunia dan sukses di akhirat. Kita ingin bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Jika hanya mengejar sukses dunia saja, kita akan merugi kelak di akhirat. Contoh-contoh yang saya tulis di atas tentu saja adalah sukses menurut ukuran dunia. Bagaimana orang-orang melakukan aktivitas kehidupan yang bisa membuatnya menjadi sukses dalam kehidupan. Bahkan pada usia yang sudah tua sekalipun, sukses bisa diraih.

Kita tidak memisahkan jalan antara sukses dunia dengan sukses akhirat, karena itu berada di jalan yang harus sama, agar tidak perlu menempuh dua jalan yang berbeda untuk bisa sukses pada keduanya. Allah telah memerintahkan manusia agar selalu bekerja keras, bekerja serius, dengan mengoptimalkan segenap potensi dan waktu yang dimiliki :

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (Alam Nasyrah: 7 , 8).

Allah menghendaki agar semua waktu kita produktif, tidak ada yang tersia-siakan. Bersambung antara satu kegiatan dengan kegiatan berikutnya, antara satu usaha dengan usaha berikutnya. Jangan membiarkan diri manja dan cengeng dengan meratapi kondisi yang tidak sesuai harapan, sampai menghabiskan waktu hanya untuk menangisi nasib yang belum berpihak kepada dirinya. Tidak mengenal usia, semua waktu harus bermanfaat dan teroptimalkan untuk membuat karya. Namun di semua usaha kita, ujungnya adalah harapan besar kepada Tuhan.

Inilah jalan sukses itu. Kesungguhan, kegigihan, dan keseriusan dalam perjuangan untuk melakukan aktivitas terbaik pada setiap waktu yang kita lewati. Tidak mudah mengeluh, tidak mudah kecewa, tidak berputus asa dari kebaikan. Jika di masa muda belum merasa menemukan kesuksesan, bukan alasan untuk menutup lembar kehidupan dengan mengatakan â€Å“Sudah selesai sejarahku. Tidak mungkin aku menjadi orang sukses. Ini pikiran dan jiwa pesimis yang harus dibuang.

Selama kita masih diberi waktu, semua peluang dan kesempatan sukses selalu terbuka. Tinggal kita mengolah potensi dan mengambil kesempatan yang terbuka tersebut untuk meraih sukses. Kewajiban manusia hanyalah berusaha, melakukan yang terbaik, sembari terus berdoa. Allah yang akan memberikan kesuksesan bagi kita. Jangan pernah menyerah untuk mendapatkan sukses. Sesaat sebelum meninggalnya, seseorang bisa meraih sukses.

Jangan merasa tua untuk memulai karya. Jangan merasa tua untuk bekerja produktif. Jangan merasa tua untuk meraih mimpi. Jangan merasa tua untuk mendapatkan sukses.

Oleh: Ustd. Cahyadi Takariawan

Saturday, February 1, 2014

Keluarga Sakinah, Keluarga Dambaan




Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Ungkapan ini sering terdengar seiring dengan musim orang menikah. Seakan sudah menjadi kalimat pakem yang harus diucapkan saat menghadiri kondangan & menyalami sang mempelai. Lantas apa maksud dari ungkapan tersebut

Jendela Keluarga: Sebagai sebuah ibadah, tentu saja pernikahan memiliki sejumlah tujuan yang mulia. Memahami tujuan itu akan menghindarkan pernikahan hanya sekedar ajang pelampiasan nafsu seksual belaka. Tujuan-tujuan itu adalah pertama mewujudkan mawaddah dan rahmat, yakni terjalinnya cinta kasih dan tergapainya ketentraman hati (ar-Rum : 21). Kedua, sebagai upaya mengikuti sunnah Rasulullah. Ketiga, melanjutkan keturunan dan menghindari dosa. Keempat, untuk mempererat tali silaturahim. Kelima, pernikahan sebagai sarana dakwah. Keenam, dalam rangka menggapai mardhatillah. 

Jika demikian tujuan pernikahan yang sebenarnya, maka dapat dipastikan bahwa suatu pernikahan yang tidak diarahkan untuk mewujudkan keluarga sakinah, berarti jauh dari apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Lalu, apa ukuran sebuah keluarga disebut keluarga sakinah? 

Keluarga Sakinah: Keluarga dengan Enam Kebahagiaan

Keluarga sakinah adalah keluarga dengan enam kebahagiaan yang terlahir dari usaha keras pasangan suami istri dalam memenuhi semua kewajiban, baik kewajiban perorangan maupun kewajiban bersama. Teramat jelas bagaimana Allah dan Rasul-Nya menuntun kita untuk mencapai tiap kebahagiaan itu. Enam kebahagiaan yang dimaksud adalah:

Pertama, kebahagiaan finansial. Kepala keluarga wajib mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya dengan berbagai usaha yang halal. Kebahagiaan finansial adalah ketika kebutuhan asasi seperti sandang, papan dan pangan, serta kebutuhan dharuri seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, terlebih bila kebutuhan kamali dapat dipenuhi. Sehingga keluarga itu dapat hidup normal, mandiri, bahkan bisa memberi.

      Kedua, kebahagiaan seksual. Sudah menjadi fitrahnya, dalam kehidupan rumah tangga suami istri ingin meraih kepuasan seksual. Islam menuntunkan agar istri senantiasa bersiap memenuhi panggilan suami, tapi juga diajarkan agar suami selalu memperhatikan kebutuhan seksual istri. Ketika sepasang suami istri secara bersama dapat mencapai kepuasan seksual, maka mereka akan merasakan kebahagiaan seksual. Terlebih bila dari aktifitas seksual itu kemudian terlahir anak. Dengan pendidikan yang baik tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah, kebahagiaan akan semakin memuncak.

Ketiga, kebahagiaan spiritual. Salah satu kewajiban bersama suami istri adalah melaksanakan ibadah-ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Ketika sebuah keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang rajin beribadah, dan dalam moment-moment tertentu memenuhi anjuran Allah dan Rasul-Nya untuk melaksanakannya secara bersama, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya, maka kehidupan rumah tangga itu akan dihiasi oleh suasana religius dengan aura spiritual yang kental. Mereka merasakan secara bersama nikmatnya beribadah kepada Allah. Inilah yang disebut kebahagiaan spiritual.

Keempat, kebahagiaan moral. Suami wajib menggauli istri dengan ma’ruf. Istri juga wajib bersikap sopan dan patuh kepada suami. Suami istri bersikap sayang kepada anak-anak, sementara anak wajib bersikap hormat kepada kedua orang tuanya. Ketika pergaulan antar anggota keluarga, juga dengan karib kerabat dan tetangga, senantiasa dihiasi dengan akhlaq mulia, akan terciptalah kebahagiaan moral.

Masing-masing akan merasa nyaman dan tenteram tinggal di rumah itu. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, bukan sebaliknya. Keresahan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.

Kelima, kebahagian intelektual. Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya menurut tolok ukur Islam, juga untuk mampu mengatasi secara cepat dan tepat setiap problematika keluarga yang timbul, diperlukan pengetahuan akan ara’ (pendapat), afkar (pemikiran) dan ahkam (hukum-hukum) Islam pada pasangan suami istri. Maka menuntut ilmu (tsaqofah Islam) adalah wajib.

Ketika, sepasang suami istri memiliki pemahaman dan ilmu Islam yang cukup sedemikian kebutuhan untuk hidup secara Islami dan menjawab setiap masalah tercukupi, mereka akan merasakan suatu kebahagiaan karena hidup akan dirasakan terkendali, terang dan mantap. Pengetahuan memang akan mendatangkan kebahagiaan. Sebagaimana kebodohan mendatangkan kesedihan. Inilah yang disebut kebahagiaan intelektual.

Keenam, kebahagiaan ideologis. Keluarga dalam Islam bukan hanya dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu, tapi juga memuat misi keumatan. Yakni sebagai basis para pejuang Islam dalam usahanya menegakkan risalah Islam. Dengan misi itu, berarti masing-masing anggota keluarga diarahkan untuk memiliki peran yang nyata dalam dakwah. Termasuk anak-anak yang terlahir dididik untuk menjadi kader dakwah yang tangguh di masa mendatang.

Nah, keluarga yang mampu merealisasikan misi Islam yang amat mulia inilah keluarga muslim yang sebenarnya. Ketika suami istri merasa mampu mengayuh biduk rumah tangganya dalam kerangka misi tersebut, pasti mereka akan merasakan suatu kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan itu kita sebut kebahagiaan ideologis.

Manakah diantara keenam kebahagiaan itu yang utama? Tergantung pada persepsi atau pemahaman pasangan suami istri. Keluarga Rasulullah dibangun dengan meletakkannya pada kerangka perjuangan. Inilah keluarga teladan dengan kebahagiaan ideologis. Tapi berdasarkan riwayat-riwayat yang sangat jelas, Rasul juga mampu menciptakan kebahagiaan intelektual, kebahagiaan moral, spiritual, termasuk seksual bagi keluarganya.

Secara finansial, Rasul memang hidup dalam kesahajaan. Tapi siapa sangka mereka juga ternyata merasakan kebahagiaan finansial. Karena kebahagiaan yang terakhir ini tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tapi oleh perasaan qanaah (cukup) atas rizki yang Allah karuniakan.

Kesiapan Mental Spiritual

Paling sedikit ada empat persiapan yang harus dilakukan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Yakni persiapan ilmu menyangkut tentang bagaimana hidup sebagai istri/ibu atau sebagai suami/bapak dan bagaimana menjalani hidup bersama dalam sebuah keluarga dengan segala hak dan kewajibannya. Berikutnya adalah persiapan mental, finansial dan fisikal (kesehatan).

Empat persiapan itu perlu dilakukan oleh calon pengantin, mengingat bahwa pernikahan berarti mempertautkan dua pribadi dari dua keluarga yang sama sekali berbeda. Hidup dalam satu atap dengan pasangan barunya jelas akan membawa perubahan-perubahan yang drastis. Yang semula sendiri, kini berdua. Yang semula bebas kini terikat dengan hak dan tanggungjawab dan sebagainya.

Untuk menghadapi semua itu, diperlukan kesiapan mental. Yakni bagaimana menghadapi tekanan hidup dengan berbagai macam problematika kehidupan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan dan sebagainya. Pasangan yang memiliki kesiapan mental akan dapat menjalani semua tekanan itu dengan jiwa yang tegar, sabar dan optimis.

Sebaliknya yang tidak memiliki kesiapan mental akan banyak sekali menghadapi tekanan mental. Mungkin persoalan yang dihadapi sebenarnnya biasa-biasa saja, tapi karena memang dasarnya miskin ketahanan mental, akibatnya menjadi sangat serius.

           Keluarga yang normal dalam ukuran Islam adalah keluarga yang mampu mewujudkan sejumlah fungsi pokoknya, yaknsi fungsi ekonomi, fungsi sosial, fungsi edukatif, fungsi protektif, fungsi religius, fungsi rekreatif, fungsi dakwah dan fungsi afektif. Terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga (suami, istri dan anak-anak) akan membuat semua fungsi tersebut berjalan.

Sehingga peluang tercapainya enam kebahagiaan dalam keluarga sakinah terbuka lebar. Sebaliknya, pengabaian sebagian apalagi seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga jelas akan menimbulkan disfungsi keluarga. Ujungnya, tak satu pun kebahagiaan bisa diraih. Buruknya relasi suami istri acap dipicu tidak didapatkannya salah satu atau lebih dari enam kebahagiaan tersebut di atas. Seorang suami yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan finansial keluarga akan memancing reaksi negatif dari sang istri. Terlebih bila tolok ukur kebahagiaan istri pada tercapainya perolehan materi.

Begitu juga pasangan suami istri yang gagal mencapai kepuasan seksual, bergaul secara kasar, miskin pemahaman Islam, kering nuansa ibadah dan tak secuilpun terpikir perjuangan Islam, jelas akan memurukkan keluarga itu ke jurang disfungsi yang teramat fatal. Bila tidak segera teratasi, keutuhan keluarga itu akan terancam. Paling tidak kehidupan keluarga itu tidak harmonis, kering dan menggelisahkan).

Sumber : Majalah Female Readers (Zulia)

Friday, January 31, 2014

Keluarga Da'wah Keluarga Barokah

Jendela Keluarga: Keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah meridhai mereka semua, adalah contoh keluarga dakwah dan jihad. Seluruh anggota keluarga itu, termasuk pembantu rumah tangga (khadim) terlibar dalam kegiatan dakwah dan proyek jihad. Itu tampak jelas pada peristiwa besar hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bertugas menyertai Rasulullah saw dalam perjalanan. Abdullah putera Abu Bakar bertugas sebagai mediator informasi yang berkembang di kalangan orang-orang Quraisy untuk disampaikan kepada Rasulullah saw dan ayahnya yang bersembunyi di Goa Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Tugas itu dibantu oleh Asma Binti Abu Bakar, yang saat itu tengah hamil tua. Perempuan mulia ini juga mempunyai tugas lain yakni menyuplai makanan. Untuk menghapus jejak-jejak kaki itu maka Amir bin Fuhairah, khadim Abu Bakar yang ditugasi menanganinya. Ia setiap hari mengembalakan kambing-kambing ke arah goa tempat keduanya bersembunyi.

Meskipun sosok isteri Abu Bakar tidak tampil dalam kisah ini, namun dapat dipastikan keluarga dengan kualitas seperti itu merupakan produk kerjasama yang baik antara suami dan isteri.

Ini potret dari sebuah keluarga Muslim. Tidak seorang pun dari anggotanya yang berpangku tangan dari dakwah dan harokah (pergerakan). Semuanya memberikan kontribusi untuk dakwah dengan kemampuan yang dimilikinya. Insya Allah keluarga seperti itu akan mendapatkan barokah. Barokah adalah kebaikan yang tiada putus-putusnya. Namun, barokah ukurannya bukanlah materi. Barokah jauh lebih tinggi dari kenikmatan materi. Barokah membuat orang dapat mencapai kebahagiaan hakiki.

Betapa tidak, dakwah adalah sumber segala kebaikan. Karena dakwah mempunyai kekuatan untuk:

1. Menambah Jumlah Orang yang Beriman dan Bertaqwa

Iman dan taqwa adalah kunci bagi turunnya barokah dari Allah swt. Namun bukan iman dan taqwa yang dinikmati secara individual yang dapat menjamin turunnya barokah dari Allah. Melainkan iman dan taqwa yang menjadi perilaku manusia secara massal. Perhatikan firman Allah swt:

Seandainya para penduduk negeri-negeri ini beriman dan taqwa niscaya Kami bukakan bagi mereka barokah-barokah dari langit dan bumi. (Al A’raf:96)

2. Mendatangkan Rahmat Allah

Esensi dakwah adalah menyeru manusi kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan perbuatan itu akan mendatangkan rahmat dari Allah. Firmannya:

Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah:71)

Dengan rahmat Allah itulah manusia berkasih sayang. Dan dengan kasih sayang itulah hubungan antar personal akan menjadi sangat indah dan membahagiakan.

2. Mendatangkan Pahala yang Besar

Dakwah diperintahkan oleh Allah swt langsung firman-Nya: Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijak dan nasihat yang baik. (An Nahl:125)

Jika dakwah adalah perintah Allah, maka berarti hukumnya wajib. Dan melaksanakan kewajiban tentu saja mendatangkan pahala. Dan sebaliknya, meninggalkannya adalah dosa besar. Tentang agungnya pahala berdakwah, Rasulullah saw bersabda, Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui (usaha dakwah) kamu, maka (pahalanya) bagimu lebih baik dari dunia dengan segala isinya.

4. Menjauhkan Pelakunya dari Malapetaka di Dunia

Allah swt berfiman: Dan tidaklah Tuhan kamu akan membinasakan satu negeri padahal para penduduknya melakukan perbaikan. (Hud: 117)

Ayat itu mengisyaratkan secara tegas bahwa sekedar kesalihan segelintir orang yang ada pada suatu negeri tidaklah cukup untuk mencegah bencana dari Allah. Baru negeri itu akan terhindar dari kehancuran apabila penduduknya itu muslikhun (melakukan perbaikan dan pensalihan). Dan dakwah adalah upaya utama untuk itu. Itulah di antara bentuk-bentuk barokah yang dijanjikan Allah bagi orang yang melakukan dakwah.

Tapi, tersisa sebuah pertanyaan yang bernada mengkonfrontir antara idealita di atas dengan realitas. Realitasnya begini: nyatanya tidak sedikit keluarga yang aktif dakwah dan harokah tidak mencerminkan keluarga barokah. Fenomenanya misalnya, keharmonisan keluarga tidak tampak, rahmatan lil alamin-nya Islam tidak tercermin dalam kehidupannya: anak-anak pada keluarga tersebut justru menjadi gambaran kehidupan yang tidak berdisplin dan tidak mengenal tatakrama; rumahnya berantakan sepeti kapal pecah, dan seterusnya. Bagaimana itu bisa terjadi?

Fenomena yang dikeluhkan, seperti yang disebutkan di atas itu adalah merupakan elses dan pensikapan yang tidak benar terhadap dakwah. Lalu bagaimana pensikapan yang benar agar dakwah itu benar-benar menjadi barokah?

Pertama, ikhlas. Setiap anggota keluarga harus ikhlas menjalani kehidupan di belantara dakwah. Suami menjalankan dakwah semata-mata dengan tujuan mencari ridha Allah dan dengan cita-cita menegakkan kalimatullah, isteri dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah pun melepas kepergian suami atau ayah dengan penuh keikhlasan. Mereka mendukung sepenuhnya kiprah sang ayah dengan tujuan memberikan kontribusi bagi eksesnya Islam dalam kehidupan manusia.

Kedua, sabar. Terjun ke kancah dakwah mengandung resiko dan konsekuensi. Di antara resiko itu adalah berkurangnya hal-hal yang disenangi; peluang memperoleh materi, materi, waktu pertemuan dengan keluarga, waktu untuk rekreasi. Bahkan lebih berat daripada itu ada resiko berhadapan dengan tiran dan penguasa zalim.

Ketiga, saling memahami (tafahum). Untuk menumbuhkan keikhlasan dan mewujudkan
kesabaran perlu dibangun tafahum. Setiap kesabaran perlu dibangun tafahum. Setiap anggota keluarga saling memahami mengapa harus berdakwah, apa tujuan dakwah, dan bagaimana keutamaan dakwah, ada resiko dan konsekuensi dakwah. Logis bila muncul masalah seperti disharmoni antara suami dan isteri atau orang tua dengan anak-anak manakala seorang dai asyik dan menikmati sendiri dunia dakwah. Tanpa adanya tafahum keasyikan itu akan ditafsirkan sebagai sikap abai dan tidak peduli dengan nasib keluarga. Tanpa pemahaman yang sama, alih-alih mendukung, anggota keluarga bahkan bisa menjadi musuh dai dan musuh dakwah itu sendiri.

Keempat, menjaga keseimbangan (tawazun). Tentu saja tafahum bukanlah satu-satunya andalan untuk mensukseskan cita-cita keluarga harokah agar menjadi keluarga barokah. Tafahum harus ditindaklanjuti dengan keseimbangan dalam merespon kebutuhan-kebutuhan riil lapangan. Yang butuh dakwah bukan hanya masyarakat melainkan juga keluarga, anak, istri, orang tua, istri, ayah, ibu, adik, kakak, dan seterusnya. Sulit dimengerti dengan logika dakwah bila sepasang suami istro yang sibuk di luar rumah dengan dalih dakwah (sama tidak
logisnya bila alasannya sekedar mencari maisyah atau meniti karir) sementara  anak-anak sendiri sepenuhnya diserahkan kepada orang lain yang bernama khadimah (dengan tidak mengurangi penghargaan kepada khadimah dan profesinya serti tidak menafikan adanya khadimah yang andal dalam hal ini).

Selain kebutuhan dakwah itu, keluarga pun mempunyai kebutuhan fisik dan material. Zuhud tidaklah identik dengan kepapaan. Keluarga dakwah yang ideal adalah keluarga yang tidak membuat orang yang melihatnya iba dan merasa perlu mengasihani. Dan masalah ini juga perlu mendapat sentuhan memadai dari sang da’i terlepas dari kenyataan bahwa sebagian aktifitas dakwah juga bisa menjadi peluang bagi datangnya rizki Allah swt.

Kelima, saling bantu (taawun). Tangung jawab keluarga dakwah dan harokah memang jauh lebih kompleks dari keluarga biasa. Sukses membangun keluarga adalah taruhan bagi sukses membangun masyarakat. Maka tentu saja tanggung jawab bukan hanya terletak pada sang kepala keluarga melainkan terdistribusi kepada seluruh anggota keluarga itu dengan peran yang berbeda-beda. Dengan cara ini maka tidak akan terjadi suami terhadap istrinya, istri terhadap suaminya, atau orang tua terhadap anak-anaknya merasa paling berjasa dari yang lainnya, sebab setiap anggota keluarga telah menjalankan perannya masing-masing.

Wallahu a’lambishshowab.

Sumber: Majalah Saksi No.23/Th.III, 21 Agustus 2001

Keluarga Dakwah, Harokah dan Barokah. yuk kita berusaha mewujudkannya

Thursday, January 30, 2014

Makna (Cinta) Keluarga Dalam Setiap Jiwa Penghuninya


Jendela Keluarga: Bukan cinta yang menjadi sebab mereka  berlayar | tapi justru berlayarlah yang membuat mereka semakin cinta | untuk cintamu pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu, pada umat manusia pada orang tuamu, pada adik-kakakmu, pada suami-istrimu, pada anakmu, pada masa depanmu | jika cinta berbuatlah | ukuran termudah dan logis  tentang cinta adalah amal | yaitu tentang pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan untuk cinta-cinta kita | mudah melihat bukti cinta seorang ibu dengan melihat kerasnya  dia mengurus anak dari mata terbuka hingga mata terpejam | cinta itu tindakan | itu yang membuat cinta logis dan terukur | semakin banyak yang kita lakukan, semakin banyak cinta yang kita miliki | semakin besar hal yang kita perbuat, semakin besar pula gambaran keagungan cinta kita | maka jika cinta berbuatlah | cinta adalah kebaikan | diksi kata cinta adalah baik dan positif | lawannya benci | deskripsi kata cinta adalah pemimpin agung yang adil | bukan perompak kejam yang pembius | cinta juga dideskripsikan sebagai  ibu baik hati yang cantik, bukan nenek sihir jahat bersuara parau | sederhananya cinta adalah gambaran penuh kebaikan | cukup dengannya mampu memperbaiki segalanya | maka cinta membuat pelakunya akan semakin membaik, atau memantaskan diri menjadi lebih baik | para pecinta sadar, pencarian sejati manusia adalah pencarian tentang kebaikan | tak peduli siapapun kita, karenanya juga para pecinta tau, sewaktu mereka memutuskan untuk mencintai | mereka akan dinanti kebaikannya oleh  sang cinta itu fitrahnya | muara cinta dari sepasang manusia | adalah pernikahan | maka di sanalah muara kebaikan dari setiap lelaki, dan perempuan tersalur | ini beratnya, karna kebaikan tidak berteman lama dengan kepura-puraan | tampak baik cukup  untuk memikat semua perempuan atau laki-laki | tapi belum tentu cukup untuk merawat kesetiaan | betapa banyak hubungan pernikahan kandas | hanya karena alasan, ia tak sebaik kelihatannya | berbuat baik adalah perintah setelah ruku’ dan sujud, seperti halnya ruku’ dan sujud | berbuat baik tidak bisa pura-pura | ada keikhlasan di sana | hanya untuk Allah dan berharap balas hanya dari Allah | di sini tidak ada ruang untuk, kepura-puraan | karna Allah Maha Tau Segalanya | “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.

(dinukil dari seorang motivator Ridwan Kamil)

Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku. Jargon yang biasa terdendang di setiap jiwa-jiwa penghuninya. Entah itu berupa kiasan atau benar adanya. Tak hanya semata-mata bermakna rumahku surgaku. Karena kata itu begitu melangit adanya, jika tidak setara dengan jiwa penghuninya. Mungkin kalian akan berpikir sejenak dan sependapat mengatakan, ya.

Hai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Jika cinta maka bertindaklah dengan kebaikan. Seperti halnya sepenggal surah tersebut, tak sekadar memotivasi. Bahwa cinta adalah tindakan, terhadap keluarga pun demikian. Keluarga adalah keutuhan cinta dalam bahtera rumah tangga, berlayar di samudera kehidupan dan bermuara di pelabuhan akhirat nantinya. Di dalamnya berisikan sebuah pembelajaran kehidupan untuk bekal akhirat terhadap setiap penghuninya. Jika kita semakin cinta maka kita akan bertindak lebih baik untuk keluarga, entah pada suami yang berjuang dalam peluhnya terik matahari, istri yang selalu mendampingi, anak-anak yang menghibur hati dan keluarga besar yang selalu ada untuk menyemangati. Karna cinta menjadi memotivasi manusia terbesar dalam hal apapun.

Seperti halnya cinta kita pada Sang Pencipta, cinta di atas segalanya. Jika cinta bertindaklah, menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk bisa bertemu dengan Sang Maha Cinta. Sungguh indah. Membayangkannya pun merasakan nuansa yang begitu syahdu. Ketika cinta pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu dan Keluargamu, menjadikan sebab kita cinta.  Aaahhhh!!! Itu ada tiap impian individu manusia, fitrahnya. Dan kitapun dapat menggambarkan bagaimana surganya rumah kita di dunia dengan melihat isian dari karakter yang menjadikan lahirnya pribadi-pribadi dari setiap jiwa penghuninya. Cukup kita menengok diri kita saat ini, yup! Sejauh mana makna cinta keluarga itu?

Jika cinta maka bertindaklah, saling mengingatkan adalah bentuk cinta. Itu sebabnya saya ingin berbagi cinta dengan kalian. Bersyukur bila mengena di hati. Itu tandanya ada yang perlu diperbaiki dalam diri. Karna sejatinya manusia adalah berproses dan bertindak untuk lebih baik. Ingat proses saat kita tercipta, terlahir, tumbuh dewasa, sekolah, berkeluarga dan kematian pada awal kehidupan selanjutnya. Yup!!! Berproses menuju kebaikan. “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.” Sudah diserukan sejak manusia tercipta dan tertulis dalam lauhul mahfuz. Untuk manusia-manusia pilihan yang beriman. Jika cinta maka bertindaklah.