Selamat Datang di Web Jendela Keluarga Aris Nurkholis - Ratih Kusuma Wardani

Jendela Keluarga: Mewujudkan Keluarga Islami

Keluarga muslim adalah keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai keislaman, Setiap anggota keluarga komintmen terhadap nilai-nilai keislaman. Sehingga keluarga menjadi tauladan dan lebih dari itu keluarga menjadi pusat dakwah Islam.

Merajut Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Keluarga sakinah adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Cinta Tanpa Syarat

Ketika suami dan isteri sudah menetapkan “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Cinta Tidak Harus Dengan Kata

Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”.

Komunikasi dan Interaksi Penuh Cinta

Hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat, komunikasi yang indah dan melegakan serta komunikasi penuh cinta antara seluruh anggotanya.

Sunday, March 2, 2014

Capacity Building: Memperbesar Kapasitas Kebaikan Kita


Jendela Keluarga - ”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 265)

Apa yang kita punya, itu adalah kapasitas untuk berbuat baik. Tubuh kita. Panca indera kita. Adalah peluang untuk berbuat baik. Mata yang kita miliki adalah pintu untuk memahami pesan-pesan dan kehendak Allah. Begitu banyak bertebaran di hadapan kita yang dapat direkam mata. Lalu ditransfer ke otak. Kemudian direnungkan olah hati dan pikiran kita. Maka jadikan perenungan itu jalan mencapai pemahaman tentang kebesaran Allah dan keagungan perbuatan-Nya. Juga luasnya ilmu-Nya. Juga besarnya kasih sayang-Nya. Lalu kita pun bersyukur atas segala karunia itu.

Tidak semua orang bisa menikmatinya. Karena Allah memang menciptakan kita dengan berbeda kondisi dan keadaan. Maka luluh pulalah perasaan kita. Melahirkan empati kepada orang-orang yang Allah sayangi dengan kekurangsempurnaan wujud fisiknya. Bukan karena Allah tidak mampu mencipta semua dengan lengkap sempurna. Bukan pula Ia tidak bisa berlaku adil memberi penciptaan yang sama kepada setiap makhluk-Nya tanpa dibeda-bedakan. Semua itu adalah bentuk kemahakuasaan Allah untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki.

Semua perbedaan itu adalah ujian bagi kita. Untuk bisa bersabar atas kekurangan dan keterbatasan. Juga ujian bagi yang lain untuk bisa bersyukur atas kelengkapan jasmani. Semua terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya. Allah Ta’ala berfirman, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Telinga yang kita punyai, adalah jalan untuk meraih kebaikan dan bisa berbuat baik dengannya. Untuk dapat menangkap isyarat kekuasaan-Nya. Untuk memahami kebesaran-Nya. Lalu mengagungkan-Nya. Untuk mau mendengar perintah-Nya. Lalu taat kepada-Nya.  

”Dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (QS. Al-Baqarah: 285). Jangan seperti orang yang digambarkan Allah dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Begitu pula hidung kita yang dengannya kita bisa bernafas. Juga mencium bau-bauan sehingga bisa membedakan mana yang harum dan mana yang busuk. Dengan penciuman kita bisa membedakan apa yang aman dan apa yang berbahaya. Dengannya pula kita bisa menikmati hidangan dan makanan aneka macam dengan aroma yang masuk melalui saraf penciuman kita.

Dengannya kita pun bersyukur, karena Allah memberi kita karunia yang tidak terhingga. Hidung, selain memperindah penampilan dan mempermanis wajah, juga begitu besar perannya dalam membantu kita melangsungkan hidup. Maka indera penciuman itu adalah kapasitas kita untuk bersyukur kepada Allah. Dengan hidung pula kita belajar bersabar ketika suatu saat ia tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Mungkin karena flu. Atau sebab yang lain. Maka inilah kesempatan kita bersabar dan berserah diri kepada-Nya. Dan itu pun menjadi kebaikan bagi kita.

Begitu pula dengan kaki dan tangan kita. Dengannya kita mampu melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan. Juga menjalankan peran hidup pada profesi kita masing-masing. Juga melakukan perjalanan dalam rangka mencari ilmu, mencari rizki, maupun sekadar rihlah meluruhkan penat dan ketegangan selepas kesibukan. Baik perjalanan yang kita lakukan di daratan maupun di lautan. Dari perjalanan itu pun kita mendapatkan banyak pelajaran dan kebijaksanaan hidup. Bahwa, Allah telah merancang dan mengatur alam semesta ini dengan teramat rapi dan teliti. Tidak ada yang terluput dari pengaturan-Nya. Tidak ada yang terlewat dari pengawasan-Nya.  

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191). Allah juga berfirman, Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. Asy-Syura: 33).

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Potensi yang kita miliki. Bakat dan kemampuan yang kita punyai. Keahlian yang kita kuasai. Semua itu adalah potensi untuk berbuat baik. Kepada sesama manusia. Kepada lingkungan kita. Kepada bumi yang kita pijak dengan tanah dan tumbuhannya, dengan sungai dan lautannya, dengan hutan dan pepohonannya. Kepada masyarakat tempat kita membangun kebersamaan. Kepada negeri tempat kita menata harmoni dan peradabannya.

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Pekerjaan kita. Lapangan usaha kita. Profesi kita. Semua itu adalah lahan bagi kita untuk bertanam kebaikan dan menyemai amal saleh. Dengannya kita bisa berbuat baik. Dengannya kita bisa berbuat banyak untuk meraih pahala akhirat.

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Teman-teman kita. Komunitas yang kita bangun. Kerjasama yang kita galang. Adalah kesempatan untuk menambah kebaikan kita. Kebaikan kepada sesama. Dan berbuat baik bersama-sama.

Kehidupan yang kita lalui, adalah juga kapasitas dan peluang untuk menambah nilai kebaikan kita. Pagi dan sorenya. Siang dan malamnya. Hujan dan panasnya. Dingin dan teriknya. Kenyang dan laparnya. Sehat dan sakitnya. Sunyi dan ramainya. Adalah kesempatan untuk menambah pundi-pundi kebaikan kita. Besar maupun kecil. Banyak maupun sedikit. Membahana maupun tak diacuhkan orang. Semua keadaan itu sesungguhnya merupakan rangkaian peluang demi peluang untuk melakukan kebaikan.

Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Bahkan dalam kadar yang minimal sekalipun. Tidak perlu menunggu hingga kita benar-benar kaya untuk berinfak. Tidak pula harus menunggu sampai jadi seorang ustadz untuk mengajak orang lain kepada keshalihan. Tidak perlu menunggu jadi tokoh untuk membuat kebiasaan baik di lingkungan kita. Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Mengapa tidak kita optimalkan untuk memperbanyak kebaikan dan amal shalih?

Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itu, segala tambahan kebaikan yang kita terima adalah kesempatan untuk menambah kebaikan yang bisa kita lakukan. Menambah kebaikan yang bisa kita berikan kepada orang lain, lingkungan, dan kepada kehidupan kita.

Pertambahan usia adalah tambahan kapasitas untuk semakin memperbanyak kebaikan. Menambah rasa syukur bahwa Allah memberi kita kesempatan untuk menghirup udara dunia. Menambah rasa takut dan harap kepada-Nya sehingga semakin berhati-hati menjalani sisa umur kita. Semakin bersemangat untuk memperbanyak meluangkan waktu bersama Allah. Karena kita tidak tahu pada detik yang mana jarum jam kehidupan kita berhenti. Dan tak beranjak lagi walau hanya pada satu detik berikutnya.

Bertambahnya anak adalah tambahan kesempatan untuk memperbanyak kebaikan kita. Kesempatan yang lebih banyak untuk mendidik dan mencetak kader dakwah dan aktivis keshalihan. Juga peluang yang lebih banyak untuk nafkah yang kita berikan kepada mereka. Juga, tentu, semakin membuat kita memperbaiki sikap dan perilaku karena semakin bertambah orang yang akan sangat mengenal kita dan akan meniru keteladanan kita.

Kenaikan pangkat dan posisi kepemimpinan adalah tambahan kesempatan untuk memperluas jangkauan kebaikan kita. Memperbesar skala kebaikan yang bisa kita wujudkan. Memperluas jaringan keshalihan yang bisa kita rajut. Untuk semakin mendekatnya keberkahan Allah bagi masyarakat kita.

Tambahan harta, itu adalah tambahan kapasitas untuk bisa berbuat kebaikan lebih banyak. Semakin banyak dana yang bisa kita lokasikan pada pos-pos kebaikan. Semakin banyak sedekah dan santunan yang bisa kita berikan. Semakin banyak proyek kebajikan yang bisa kita jalankan. Semakin banyak gagasan-gagasan kebaikan yang dapat diwujudkan. Semakin banyak jalur-jalur kebaikan yang bisa kita kembangkan. Inilah makna kehidupan yang berkah. Kehidupan yang ditandai dengan semakin bertambahnya kebaikan yang bisa kita raih dan kita wujudkan.

Apa pun yang kita punya, sejatinya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Maka, ketika kita berkeinginan menambah kepemilikan kita atas berbagai sarana hidup, niatkanlah ia untuk menambah kapasitas kebaikan kita. Tambahkanlah alasan itu pada setiap keinginan dan rencana kita untuk memiliki tambahan itu. Niatkan ia sebagai jalan untuk menambah kemampuan kita dalam berbuat baik. Bukan semata menikmati hidup. Apalagi mengikuti gaya hidup. Karena jika itu yang terjadi, betapa sayang. Kenikmatan yang kita rasakan di dunia bukan menjadi jalan untuk bisa mengecap nikmatnya kehidupan akhirat.

Maka, perbuatlah kebaikan lebih banyak seiring bertambahnya kapasitas kita. Dalam segala hal. Agar ia menambah amal kebajikan kita. Agar ia semakin memperbanyak pahala kita. Di sisi Allah ’Azza wa jalla. Karena semua tambahan karunia itu akan diminta pertanggungjawabannya di hari pengadilan kelak. Ketika Allah mempertanyakan tentang apa yang kita miliki. Ketika Allah mempertanyakan tentang apa yang kita nikmati di sini. ”Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan itu.” (QS. At-Takaatsur: 8). Wallahu a’lam bish-shawab.

Thursday, February 27, 2014

Pakar Parenting: “Efek Terbesar Ghazwul Fikri adalah Rusaknya Keluarga







Jendela Keluarga: PENGAGGAS gerakan “Ayah Untuk Semua”, Irwan Rinaldi, atau yang biasa disapa Ayah Irwan, dalam kesempatan acara training for trainers “Feminisme dan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam” di AQL Islamic Center, Tebet Jakarta (27/01/2014) menyatakan bahwa salah satu kunci sukses kebangkitan Islam adalah dengan mengembalikan sistem tarbiatul awlad (pendidikan anak-anak) a la Rasulullah SAW.

Menurut pria yang aktif memberi konseling keluarga ini, salah satu indikator sukses dari pendidikan anak a la Rasulullah adalah kematangan psikologis yang mendahului kematangan fisik.
Salah satu poin penting untuk mendorong hal tersebut adalah lewat pendidikan karakter, dan menurutnya, pendidikan karakter paling baik diajarkan oleh ayah.

“Sejak usia dini, anak-anak harus dikenalkan dengan para sahabat Nabi seperti Umar dan Ali, anak-anak harus kenal mereka baik secara sosok maupun karakternya. Pengajaran karakter terbaik adalah dari seorang ayah,” Papar pria yang sempat menjadi relawan tim recovery anak korban perang di Eropa Timur.
Lebih lanjut, menurutnya, persoalan SDM yang dihadapi umat Islam salah satu penyebabnya adalah anak-anak kaum muslimin yang tidak berkarakter. Anak-anak yang lemah karena tidak berkarakter ini menjadi mangsa empuk dari racun pemikiran.

“Ustadz Rahmat Abdullah pernah menasehati saya bahwa ghazwul fikr terbesar adalah untuk merusak keluarga, terutama menjauhkan ayah dari anaknya. Akibatnya anak menjadi lemah, dan rentan terhadap pengaruh buruk seperti racun pemikiran,” ungkapnya.

Irwan juga mengungkapkan bahwa pendidikan sekuler telah menghambat kedewasaan psikologis anak dengan memutuskan bahwa “kedewasaan” itu dicapai pada umur 18 tahun.

“Padahal jika dilihat dalam sejarah Islam, banyak sekali pemuda-pemuda di bawah umur 18 tahun yang sudah mampu mengemban amanat besar dengan baik,” tutupnya.
Sumber: islampos.com

Tuesday, February 25, 2014

Untuk Kalian yang Mengharamkan Kata “JANGAN”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu






Jendela Keluarga: “Al-Qur’an itu kuno,  Bu, konservatif, out of dated!. Kita telah lama hidup dalam nuansa humanis, tetapi Al-Qur’an masih menggunakan pemaksaan atas aturan tertentu yang diinginkan Tuhan dengan rupa perintah dan larangan di saat riset membuktikan kalau pemberian motivasi dan pilihan itu lebih baik. Al-Qur’an masih memakai ratusan kata ‘jangan’ di saat para psikolog dan pakar parenting telah lama meninggalkannya. Apakah Tuhan tidak paham kalau penggunaan negasi yang kasar itu dapat memicu agresifitas anak-anak, perasaan divonis, dan tertutupnya jalur dialog?“ Katanya sambil duduk di atas sofa dan kakinya diangkat ke atas meja.


Pernahkan Bapak dan Ibu sekalian membayangkan kalau pernyataan dan sikap itu terjadi pada anak kita, suatu saat nanti?

Itu mungkin saja terjadi jika kita terus menerus mendidiknya dengan pola didikan Barat yang tidak memberi batasan tegas soal aturan dan hukum. Mungkin saja anak kita menjadi demikian hanya gara-gara sejak dini ia tidak pernah dilarang atau mengenal negasi ‘jangan’.

Saat ini, sejak bergesernya teori psikoanalisa (Freud dan kawan-kawan) kemudian disusul behaviorisme (Pavlov dan kawan-kawan), isu humanism dalam mendidik anak terus disuarakan. Mereka membuang kata “Jangan” dalam proses mendidik anak-anak kita dengan alasan itu melukai rasa kemanusiaan, menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog. Ini tidak menjadi masalah karena norma apapun menghargai nilai humanisme.

Tidak perlu ditutupi bahwa parenting telah menjadi barang dagangan yang laris dijual. Ada begitu banyak lembaga psikologi terapan, dari yang professional sampai yang amatiran dengan trainer yang baru lulus pelatihan kemarin sore. Promosi begitu gencar, rayuan begitu indah dan penampilan mereka begitu memukau. Mereka selalu menyarankan, salah satunya agar kita membuang kata “jangan” ketika berinteraksi dengan anak-anak. Para orang tua muda terkagum-kagum member applausa. Sebagian tampak berjilbab, bahkan jilbab besar. Sampai di sini [mungkin] juga sepertinya tidak ada yang salah.

Tetapi pertanyaan besar layak dilontarkan kepada para pendidik muslim, apalagi mereka yang terlibat dalam dakwah dan perjuangan syariat Islam. Pertanyaan itu adalah “Adakah Engkau telah melupakan Kitabmu yang di dalamnya berisi aturan-aturan tegas? Adakah engkau lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”?

Salah satu contoh terbaik adalah catatan Kitabullah tentang Luqman Al-Hakim, Surah Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang Dia beri hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah..” dst)

Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya “Wahai anakku, JANGANLAH  engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.

Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada  anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”

Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”. Pun demikian   dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Adakah pribadi psikolog atau pakar patenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman?  Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut dosa, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiyatan bertebaran karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

sumber: fimadani.com

Sunday, February 23, 2014

Inilah Ciri Masyarakat Indonesia Madani




Jendela Keluarga: Menarik untuk dicermati, sebuah riwayat dari Abdullah bin Salam, yang menceritakan pidato pertama Rasulullah SAW saat pertama kali tiba di Madinah, dimana orang-orang mengerumuninya, beliau bersabda : “" Wahai sekalian manusia,  sebarkanlah salam (keselamatan dan kedamaian), berikan makanan, pelihara silaturrahim dan lakukan shalat (malam) pada saat manusia sedang tidur. niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Majah) . Pidato yang ringkas dan padat ini, jika kita lihat dari momentumnya diucapkan pertama kali saat sampai Madinah, seolah menunjukkan semacam panduan umum dalam membangun masyarakat Madani yang dicita-citakan.  Ada empat nilai tersirat yang bisa kita praktikkan dalam keseharian, yaitu :

Pertama : Masyarakat Cinta Damai . 

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk afsyus salaam, menyebarkan salam dan kedamaian. Islam adalah agama yang secara bahasa berarti kedamaian dan keselamatan. Definisi seorang muslim dengan gamblang dijelaskan dalam sebuah sabda Rasulullah SAW, yaitu : Rasulullah SAW bersabda : “ Seorang muslim adalah mereka yang orang-orang selamat dari gangguan lisan dan tangannya “ (HR Ahmad).  Maka salah besar jika ada yang mengkaitkan kekerasan dengan ajaran Islam, karena jangankan dengan manusia, terhadap binatang pun kita diajarkan untuk berlaku baik penuh kasih sayang.

Kedua : Masyarakat Peduli dan Berbagi. 

Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk ath’imu tho’aam, berbagi makanan. Maka ciri masyarakat madani selanjutnya adalah berbagi dan peduli. Hal ini dianjurkan dalam skala terkecil yaitu lingkungan bertetangga, dimana Rasulullah SAW mengancam : “ Bukanlah seorang beriman, yang dia tidur dalam kondisi kenyang sementara (dia mengetahui) tetangganya kelaparan.” (HR Bukhori). Semangat berbagi ini tidak harus menunggu kita cukup harta, namun dalam kondisi sempit pun tetap dianjurkan berbagi, bahkan menjadi ciri ketakwaan seseorang. Allah SWT berfirman tentang orang bertakwa : sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT :  Artinya : “ orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dalam kondisi lapang dan sempit “ (QS Ali Imron 134)

Ketiga : Masyarakat Bersinergi. 

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menyambung silaturahim agar tercipat sinergi bahkan dijanjikan berlimpah rejeki. Karenanya, masyarakat yang dicita-citakan adalah mereka yang gemar bersinergi, saling bekerja sama atau gotong royong dalam budaya kita. Masyarakat bersinergi menjadi ciri masyarakat madani, karena setiap elemen memiliki kelemahan dan kekuatan, untuk membangun bangsa dibutuhkan sinergi dan kebersamaan antar elemen yang rapi dan istiqomah, bahu membahu dalam kebaikan, sebagaimana diperintahkan Al-Quran : Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, dan jgn tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. (QS Al Maidah).

Keempat : Masyarakat Spiritual . 

Rasulullah SAW memotivasi kita untuk melakukan sholat malam, agar terjaga kekuatan ruhiyah kita dan kedekatan kita terhadap Allah SWT. Masyarakat yang dicita-citakan harus memiliki tingkatan spiritualitas yang tinggi, sehingga perkembangan dan kemajuan zaman tidak melalaikan dan menjerumuskan dalam kubangan dosa dan kemaksiatan. Agar juga menyadari bahwa dalam kesuksesan dan kegagalan ada hikmah dari takdir Allah SWT. Kita bisa mengambil pelajaran dari Jepang, sebuah bangsa yang maju, namun sungguh disayangkan jika angka bunuh diri di sana tercatat sebagai yang tertinggi di dunia, mencapai 76 orang perhari pada data tahun 2012 yang lalu.

Akhirnya, marilah berupaya untuk mengubah diri dan mewarnai masyarakat kita, dengan nilai-nilai yang dipesankan oleh Rasulullah SAW, sejak awal pertama membangun masyarakat Madinah yang mulia. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bisshowab.




Sumber: Ustd. Hatta Syamsudin. [indonesiaoptimis.com]

*Artikel dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Merdeka Jumat 6 September 2013

Friday, February 21, 2014

[Video] Kreatif Banget...!



   Iklan PKS Kreatif Banget....


Thursday, February 20, 2014

Tingkatan Konflik Dalam Rumah Tangga



Jendela Keluarga: Dalam kehidupan rumah tangga, memang selalu ada konflik dengan segala tingkatannya. Tidak ada keluarga tanpa konflik, yang membedakan adalah cara mereka menikmati, mengelola dan keluar dari konflik tersebut. Dengan demikian, tidak perlu berlebihan dalam memandang terjadinya konflik. Justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengubah konflik menjadi cinta yang menyala dalam keluarga.


Konflik tidaklah terjadi secara tiba-tiba, namun ada proses dan tingkatannya. Secara teoritis, konflik terjadi dalam tiga tingkatan. 

Tingkatan pertama adalah the unvisible conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini masih ada di batin atau perasaan. Ada beberapa ketidakcocokan antara suami dengan isteri, tetapi ketidakcocokan itu tidak tampak atau tidak muncul dalam ucapan, sikap, dan tindakan. Ini adalah sebentuk ketidaknyamanan hubungan yang tidak diekspresikan, namun lebih banyak dipendam dalam hati dan pikiran. Suami dan isteri sama-sama merasakan ada sesuatu yang mengganjal, namun tidak diungkapkan.

Tingkatan kedua adalah the perceived / experienced conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini sudah sama-sama diketahui, dialami atau sudah tampak di permukaan. Suami dan isteri sudah sama-sama mengalami perbedaan yang muncul dalam bentuk percekcokan, pertengkaran atau perlawanan. Pemicu konflik bisa jadi karena perbedaan pendapat antara suami dan isteri, perbedaan harapan, keinginan, atau karena adanya tindakan yang tidak menyenangkan. Konflik bisa terjadi dalam bentuk kalimat yang diucapkan atau sikap yang ditampakkan.

Tingkatan ketiga adalah the fighting. Pada tingkatan ini, konflik sudah berubah menjadi tindakan fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, atau tindakan lain yang bersifat fisik. Menurut kamus, fighting adalah melawan orang lain dengan pukulan atau senjata (blow or weapon). Dalam kehidupan rumah tangga, banyak terjadi pertengkaran suami dan isteri yang melibatkan aktivitas fisik dan “senjata”, seperti menggunakan alat pemukul, memecah piring, melempar gelas, merusak perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Memahami tingkatan konflik ini akan sangat membantu bagi suami dan isteri untuk bisa menentukan sikap yang tepat pada saat menghadapinya. Hendaknya suami dan isteri tidak membiarkan konflik berkembang dari tingkatan pertama menuju tingkatan kedua dan ketiga. Deteksi dini adanya konflik di tingkatan pertama sangat diperlukan agar bisa segera mencari jalan keluar dan tidak membiarkannya berlarut-larut atau berlama-lama.


Oleh: Ustd. Cahyadi Takariawan
Sumber: Islamedia.web.id

Tuesday, February 18, 2014

Lomba Menulis Artikel Ilmiah 2014 - SPS UPI



Ketentuan Umum Lomba Menulis Artikel Ilmiah:

Peserta
  • Peserta yang berhak mengikuti lomba menulis artikel ilmiah adalah para akademisi termasuk guru, dosen, mahasiswa, pascasarjana, dan pemerhati pendidikan.

Artikel
  • Artikel yang ditulis bertemakan tentang pendidikan termasuk di dalamnya pembelajaran, pendidikan sekolah, pendidikan formal dan informal, pendidikan tinggi dan kejuruan, kebijakan pendidikan dan belajar sepanjang hayat baik teori maupun praktik.
  • Artikel dapat ditulis secara perorangan maupun kelompok.
  • Artikel merupakan pemikiran sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau sedang dipertimbangkan untuk dipublikasikan di jurnal manapun.
  • Artikel dibuat dengan sistematika yang terdapat di ketentuan khusus.

Peserta yang akan mengikuti lomba menulis artikel cukup dengan mengirimkan artikel ke e-mail publikasi.pasca@gmail.com paling lambat 5 Mei 2014

Proses Perlombaan
Semua karya yang masuk akan dinilai secara bertahap.
Tahap pertama akan dinilai dari aspek kesesuaian dengan pedoman penulisan.
Tahap kedua akan dinilai secara konten dan isi artikel.

Artikel yang lolos tahap dua akan dimuat di jurnal yang akan diterbitkan oleh Pusat Pengembangan dan Publikasi Karya Ilmiah Sekolah Pascasarjana UPI dan memperoleh uang tunai sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) dan satu eksemplar jurnal yang diterbitkan oleh pusat Pengembangan dan Publikasi Karya Ilmiah hardcopy.

Dari seluruh artikel akan dipilih 3 artikel pemenang. Pemenang akan diumumkan pada website Sekolah Pascasarjana UPI pada tanggal 1 Juli 2014 atau dihubungi oleh panitia melalui surat resmi atau via telpon ke masing-masing pemenang pada tanggal 2 Juli 2014.

Pemenang I, II, III akan memperoleh piagam penghargaan dan uang tunai sebagai berikut:
  1. Juara I: Rp 5.000.000,-
  2. Juara II: Rp 3.000.000,-
  3. Juara III: Rp 2.000.000,-
 (klik gambar untuk memperbesar poster)
Lomba Menulis



Ketentuan Penulisan artikel dapat diunduh di sini


Alamat:
Jalan Dr. Setiabudhi nomor 229 Bandung 40154
No. Telepon: 022 – 2001197, 2002320
No. Faksimili: 022 – 2005090
e-mail: pascasarjana@upi.edu

selengkapnya di: http://sps.upi.edu/